NOVEL REMAJA TERJEMAHAN   4 comments

Resensi Novel Mongk

Mencari Pembunuh Pencuri Sepatu Kiri

Novel ini menceritakan seorang detektif gokil dan aneh dengan gayanya yang sesuka hati. Dialah Adrian Monk, detektif yang konon paling menggemaskan seantero jagat. Kendati bergaya aneh bin ajaib, Monk adalah sosok yang genius. Ia akan  selalu bisa mencium kejanggalan sekecil apa pun, di mana pun, kapan pun. Tapi ia juga sungguh aneh, seperti makhluk planet Mars yang terdampar di bumi, yang  tingkahnya ada-ada saja, tak terduga, dan yang pasti, lucu bukan kepalang.

Kisah ini dimulai dari suatu pagi yang cerah saat Monk berjalan-jalan di taman kota. Kehebohan terjadi ketika seseorang menemukan mayat perempuan. Bagi awam, mayat perempuan itu seperti mati begitu saja. Namun bagi Monk, sepintas saja dia sudah paham kalau perempuan itu dibunuh, bahkan oleh orang yang benar-benar ahli. Kemampuan Monk ini juga diturunkan kepada beberapa orang anak buahnya. Di antaranya adalah tokoh ‘’aku’’ yang menceritakan kisah bosnya yang nyentrik bernama Monk. Tokoh aku menggambarkan dengan rinci bagaimana kiprah Monk dalam melakukan penyelidikan dan bagaimana kuatnya feeling sang detektif. Sayang, Monk sering kali bokek, dan ini berdampak juga pada sang aku.

Sekarang ini Monk menghadapi kasus pembunuhan wanita-wanita muda yang sepatu sebelah kirinya diambil pelaku. Tentu saja ini sebuah keanehan tersendiri. Pertanyaan tentu saja langsung mengemuka, mengapa harus mengambil sepatu, dan mengapa yang kiri. Lewat gayanya yang nyentrik, Monk pun memulai penyelidikan yang terjadi. Akan tetapi, belum tuntas menyelesaikan kasus itu, terjadi mogok kerja massal di kepolisian yang dinamakan ‘’Flu Biru’’. Untuk mengatasi kekurangan personel, Monk diangkat oleh walikota menjadi Kapten Polisi yang memimpin Divisi Pembunuhan.

Dalam menyelesaikan misinya sebagai kapten, Monk dibantu oleh tim khusus yang terdiri atas para detektif ‘’edan’’ yang sudah dibuang dari kepolisian. Tentu saja termasuk di dalamnya tokoh aku itu. Monk dan tim barunya dipaksa bekerja keras, bahkan sejak hari pertama Monk menjadi kapten. Selain menyelidiki kasus pembunuhan ‘’sepatu kiri’’, Monk juga harus mengungkap misteri-misteri aneh lainnya, yaitu kematian seorang peramal, pembunuhan beberapa orang dengan tanggal dan tahun kelahiran yang sama, serta kematian seorang polisi rekan mereka.

Kisah yang ditampilkan dalam novel ini sangat memikat, penuh misteri, dan lucu sekali. Ia menjadi kisah yang cerdas dan berliku dengan plot yang bagus dan dituturkan dengan apik. Karakternya lihai, jenaka, dan simpatik. Sang penulis berhasil menampilkan Monk yang konyol namun cerdas dan memiliki naluri detektif yang sangat kuat. Jika dibandingkan cerita film, Monk mungkin tak jauh beda dengan Ace Ventura, si detektif hewan, lucu dan banyak akal. Juga penuh ketegangan dan humor yang tak terduga.

 

Resensi Novel The Naked Face

Kisah Penyihir Varaiya

 

Novel ini sedikit ganjil dengan nama-nama, tokoh dan karakter yang tak biasa. Novel ini bercerita tentang keluarga penyihir Raya yang terdiri dari satu bapak bernama Samudra yang masih santai ditinggal istrinya meninggal.

Padahal kejadiannya sudah 10 tahun yang lalu, dan sang duda betah sendirian, hanya ditemani tiga anak perempuan  penyihir level tinggi bernama Zea, Oryza dan Solanum, dengan gaya dan sifatnya masing-masing. Ada lagi tokoh Xander, penyihir cowok yang keren anaknya sahabat ibu ketiga bersaudara Raya yang sejak kecil dijodohkan dengan Oryza. Selain itu masih ditambah Pax, lelaki yang naksir berat pada Oryza dan menyihir dirinya sendiri menjadi kucing peliharaan Oryza. Ada juga Strawberry dan Aqua, digambarkan sebagai cewek-cewek centil yang naksir Xander, dan selalu berusaha mencelakai cewek-cewek keluarga Raya.

Di awal novel ini, penulis lebih banyak bercerita mengenai kehidupan masing-masing tokoh yang agak sedikit membosankan. Cerita baru mulai berkonflik ketika rendang yang dimasak Oryza melarikan diri dari panci. Cangkir jadi hidup dan menggigit Xander. Roti asyik bernyanyi dalam bahasa Rusia dan bersalto di dalam lemari dapur. Zea dan Sola mulai bertingkah abnormal. Dan Oryza, Xander, Pax dan Samudra harus memulai petualangan menuju pulau Varaiya yang bahkan di peta pun tidak begitu jelas. Mereka pergi untuk mencari racun penawar sihir yang menyebabkan kekacauan tersebut. Seperti juga tulisan-tulisan Clara NG lainnya, cerita di novel ini mengalir lincah dan ringan, diselingi celetukan-celetukan khas yang konyol para tokohnya. Walaupun beberapa bagian terasa lebay, namun banyak bagian dari novel ini yang bisa membawa pembacanya untuk tertawa terbahak-bahak.

Novel ini memang mulai menemukan iramanya ketika terjadi hari buruk dalam kehidupan Oryza yang dalam level sihirnya mencapai level delapan. Hari buruk itu terjadi ketika rendang melarikan diri dari panci dan terlepas bebas itu. Maka dimulailah petualangan gila-gilaan mencari penawar racun yang hanya bisa ditemukan di pulau terpencil milik suku penyihir primitif. Pulau yang tak pernah kelihatan di peta Indonesia. Pulau yang disihir hilang: Pulau Varaiya. Di sanalah kemudian berbagai kisah unik terjadi. Sihir-sihir mereka akan berhadapan dengan keanehan Varaiya yang juga memiliki keunikan dan kekhasan sendiri.

Novel ini memiliki kekhasan dengan gaya petualangan yang beda. Banyak karakter dan tokoh yang unik dan menarik. Berbagai banyolan yang dibuat juga menjadikan karakter tokoh dalam novel ini hidup. Clara Ng, sebagai penulis serba bisa untuk berbagai generasi berusaha keras untuk dapat menghidupkan novel ini dengan tokoh-tokoh imajinasi yang khas. Namun jika dilihat secara keseluruhan, novel ini agak ‘’lambat panas’’, karena dibuka dengan sesuatu yang kurang memancing minat pembaca. Namun perlahan namun pasti, berbagai tokohnya mulai menceritakan peran dan kekuatan karakter yang khas dan sangat menarik. Bagaikan rumah laba-laba, semakin lama rajutannya semakin kuat dan semakin memancing minat

————————-

Resensi Novel Barat, Terjemahan oleh:
Abdullah
Alumnus UIN Suska Riau

 

Penentram Jiwa saat Mabuk Asmara

 

 

CINTA, memang sebuah tema yang nggak ada matinya. Di manapun, kapan pun, dan oleh siapapun akan selalu menarik untuk diperbincangkan. Sebab, cinta merupakan fitrah yang diberikan kepada manusia. Cinta bukan barang terlarang ataupun tercela. Namun, bolehkah cinta dibiarkan liar begitu saja?

Sejarah telah terhiasi dengan berjuta kisah cinta. Tanpa mengenal usia dan massa, cinta hinggap di setiap manusia, karena seseorang tiada bisa hidup tanpanya. Banyak yang berakhir tragis, pilu seperti hati tersayat sembilu. Tapi ada juga yang berakhir bahagia dengan senyum merekah, menghiasi setiap sudut kehidupan.

Tamasya di Kota Cinta ini adalah sebuah realita manusia yang hari ini jauh terperosok ke jurang kenistaan diakibatkan cinta. Bukankah begitu? Mereka telah terbang tinggi karena dimabuk cinta dan dirundung asmara. Apalagi, genderang pergaulan bebas telah ditabuh begitu kerasnya, membuat manusia semakin lupa daratan dan mempertuhankan hawa nafsu atas nama cinta. Sehingga setan pun semakin bertepuk tangan kegirangan karena berhasil menjauhkan manusia dari fitrahnya. Ya..kan?

Semakin populernya jejaring pertemanan seperti sekarang; friendster, myspace, dan facebook, juga memberikan andil besar serta memudahkan setan melemparkan jaring-jaring perangkapnya. Bak mata uang yang bermuka dua, jejaring sosial pertemanan yang memiliki seribu satu manfaat dari satu sisi, namun memiliki berjuta mudharat di sisi lain.

Sebuah  kasus  seperti yang terdapat dalam buku ini. Kasus yang menimpa Putri bukan nama sebenarnya, seorang gadis remaja berumur 15 tahun yang harus kehilangan ‘’mahkotanya’’, setelah dia terjebak dalam gelapnya dunia maya. Dia tertipu oleh rayuan seorang pria berumur 32 tahun yang dikenalkan melalui situs jejaring sosial. Berawal dari perkenalan melalui dunia maya, hubungan mereka berlanjut hingga dalam dunia nyata dan berakhir dalam jurang kenistaan.

Bahkan, 700 tokoh muslim di Surabaya menghawatirkan keberadaan facebook, dan mendesak ulama Jatim untuk mengeluarkan fatwa dalam menyikapi maraknya pengunaan facebook tersebut. Mereka menilai menjamurnya jejaring sosial tersebut dirasa akan memberikan dampak negatif bagi umat muslim di Indonesia, dan dapat digunakan untuk transaksi seks terselubung.

Dalam buku ini penulis juga menyo-roti tentang maraknya jejaring sosial dan dampak negatifnya dalam masyarakat muslim apalagi di kalangan pemuda. Buku ini sangat gamblang dalam membedah apa itu cinta? Bagaiman menyikapinya dan mengendalikannya?

Buku ini diawali dengan uraian memesona yang mengembuskan semilirnya angin cinta yang membuai, dengan selingan kisah-kisah percintaan dari generasi ke generasi yang menghadirkan romantisnya orang-orang yang dilanda asmara. Tersebutlah Qais yang tergila-gila dengan Laila, dan juga Qais yang rela mati demi kekasihnya Lubha. Selain itu, buku ini pun dihiasi dengan syair-syair romantis percintaan yang sering didendangkan oleh orang-orang yang dimabuk cinta.

Mengapa bisa demikian? Buku ini akan mengajak Anda menguak misteri cinta. Berkelana mengenal cinta lebih dalam. Tentang keindahannya, bahayanya, hal-hal yang dapat merusaknya, hingga kisah tragis dan bahagia orang-orang yang dibuai cinta. Asyik, dahsyat dan mendebarkan! Selamat menikmati!

About these ads

Posted Maret 3, 2011 by mtsmudenpasar in Sinopsis

Tagged with

4 responses to “NOVEL REMAJA TERJEMAHAN

Subscribe to comments with RSS.

  1. good

  2. ceritanya bagus tapi kebanyakan gak yambung,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: