Menentukan Tema Kumpulan Cerpen   Leave a comment

KOMPENTENSI DASAR: Siswa dapat menentukan tema, latar, dan penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen

MATERI : Buku Antologi Cerpen

 

 

RINGKASAN

Pada Pelajaran 1 kamu telah mengikuti kegiatan menceritakan kembali
isi cerpen. Tentunya, kamu telah banyak membaca cerpen. Kamu akan
dapat memperoleh cerpen dari kumpulan cerpen. Cerpen yang dimuat
dapat berasal dari satu pengarang dan juga dapat merupakan karya dari
beberapa pengarang. Setiap pengarang pada umumnya memiliki kekhasan
gaya bercerita yang membedakan dengan pengarang yang lain, misalnya
dalam memilih tema, melukiskan penokohan, menampilkan latar,
penggunaan gaya bahasa, dan mengungkapkan amanat.
Bacalah dengan cermat cerpen dalam kumpulan cerpen Rindu Ladang
Padang Ilalang karya M. Fuadi Zaini berikut ini!

 

1. Cerpen ”Warisan”
  WARISAN
Barham betul. Ia punya hak atas sebagian harta yang cukup banyak itu.
Kira-kira empat sampai lima miliar rupiah.
“Lumayan kan, Mas?” katanya padaku.
“Bukan lumayan lagi,” kataku. “Untuk ukuran saya, itu sudah luar biasa.
Maklum, saya kan tidak kaya seperti Anda.”
Ia tertawa, mungkin senang dan bercampur bangga. Aku pun tersenyum.
“Tapi masalahnya tak semudah yang kita kira,” katanya kemudian agak
kendor.
“Kenapa?”
“Begini. Ternyata kakak saya itu bangsat juga, bahkan bangsat besar.
Harta itu ia kuasai sendiri. Ia tidak mau membaginya menurut hukum waris.
Dan saya hanya dijatahnya tiap bulan tak lebih dari delapan ratus ribu. Adik
perempuan saya lebih sedikit lagi.”
“Lumayan juga .”
“Lumayan bagaimana? Apa artinya uang segitu dibanding dengan
keuntungan yang ia peroleh tiap bulan dari harta yang belasan miliar itu? Tiap
bulan ia dapat puluhan atau mungkin ratusan juta.”
“Lalu?”
“Ya, tak ada lalunya. Sampai sekarang pun saya sudah kawin dan punya
dua orang anak, saya masih juga dijatah segitu.”
Aku tak habis mengerti. Bagaimana seorang kakak memperlakukan adikadiknya
demikian. Begitu tega ia menguasai sendiri harta warisan dari
ayahnya. Adik-adiknya hanya dijatahnya dengan jumlah yang tidak begitu
banyak.
* * *
Barham betul. Ia punya hak penuh atas harta bagian warisannya itu. Dapat
dimengerti kalau ia sampai begitu jengkel dan marah. Semua itu ia lampiaskan
di hadapanku.
“Bahkan ibu saya, ibunya sendiri ia jatahi juga seperti seorang anak kecil.”
“Terlalu, “ kataku.
“Terlalu sekali,” sambungnya. “Kalau sedikit saja ia punya rasa
perikemanusiaan, ia tak akan berbuat begitu. Tak usahlah kita bicara tentang
rasa keagamaan atau iman atau yang semacamnya. Saya kira ia sudah buta
tentang itu.”
Sekali lagi Barham memang betul. Ia melampiaskan semua itu di
hadapanku. Tetapi, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak punya
kekuasaan yang bisa memaksa kakaknya itu. Aku hanya salah seorang teman
dekatnya. Walau kami pernah belajar di luar negeri dulu, Barhan memang
pernah tinggal satu flat denganku. Ia seorang yang baik dan cukup cerdas.
Hanya saja ia agak penggugup dan penakut. Kabarnya karena ayahnya amat
keras kepada anak-anaknya, termasuk Barham. Mungkin jiwa Barham tidak
begitu kuat menghadapi guncangan-guncangan itu. Hal itu tampak jelas dalam
gerak-gerik dan perilaku Barham sehari-hari.
* * *

Contoh-contoh dapat banyak kita temukan. Kalau Barham, misalnya,
kusuruh cepat-cepat mendaftar masuk universitas, dengan serta-merta ia
menolak dengan berbagai macam alasan.
“Nanti, tahun berikutnya saja, Mas,” katanya padaku.
“Kenapa?” tanyaku
“Saya harus memperkuat bahasa dulu.”
“Saya kira sekarang sudah cukup. Dan itu dapat terus diperbaiki dan
disempurnakan sambil jalan.”
“Wah, itu yang saya tidak sanggup.”
“Kenapa tidak?”
“Ya, begitulah. Lebih baik saya tangguhkan dulu.”
“Teman-teman dari Eropa, Jepang, dan Afrika, bahasa mereka sudah
cukup baik dengan hanya belajar rajin dalam waktu beberapa bulan saja.
Kenapa kita harus menghabiskan setahun lebih hanya untuk itu?”
Namun ia tetap tidak mau. Sebenarnya, ia hanya kurang berani. Tatkala
sudah masuk universitas pada tahun berikutnya, kuliahnya juga agak tersendatsendat.
Dekat-dekat waktu ujian, ia sudah sakit. Sakitnya macam-macam.
Saya kira sebenarnya hanyalah karena faktor psikologis. Ia takut menghadapi
ujian-ujian itu dan agaknya ia dapat pelarian yang cukup aman dengan jalan
sakit itu.
* * *
Tatkala suatu kali, ia dapat telegram bahwa ayahnya meninggal, langsung
ia mau ambil keputusan pulang.
“Tapi kembali lagi kan?” tanyaku serius.
“Tidak, Mas,” katanya. “Saya tak akan kembali lagi.”
“Lantas studimu ditinggalkan?”
“Ya, apa boleh buat.”
“Kan sayang sekali, setahun lagi Anda dapat tamat.”
“Tak apalah. Saya harus pulang dan membereskan harta warisan dari
ayah saya. Ayah saya meninggalkan warisan yang cukup banyak.”
* * *
Memang sayang sekali ia tidak melanjutkan studinya. Namun, aku tidak
dapat memaksanya. Aku hanya seorang teman dekatnya. Kami pun berpisah.
Cukup lama juga kami berjauhan satu sama lain. Manalagi ia jarang sekali
menulis surat. Namun sayup-sayup, aku masih dengar juga berita tentangnya
dari teman-teman yang lain.
Waktu aku pulang, ia cukup sering datang ke rumahku. Tak lain yang
dilampiaskannya hanyalah soal harta warisan itu. Tampaknya penyakit gugup
dan takutnya sudah agak banyak berkurang sekarang. Ia sudah kawin dan
punya anak dua yang mungil-mungil.
“Lantas bagaimana rencana Anda menghadapi soal warisan itu
sekarang?” tanyaku dengan nada mau ikut cari jalan keluar.
Ia diam beberapa saat, seperti sedang berpikir berat dan kemudian mau
mengatakan sesuatu, tapi tampaknya ragu-ragu.
“Katakan saja kalau ada sesuatu yang mau dikatakan,” kataku lagi.
“Sebetulnya, saya sudah punya rencana yang sudah lama saya pikirkan.
Saya sudah nekat mau melaksanakan hal itu. Hanya saja saya ragu-ragu
mengatakannya kepada Mas, mungkin Mas tak akan setuju.”
“Apa itu?”

“Saya mau santet kakak saya itu.”
“Membunuhnya?”
“Tak ada jalan lain, saya kira.”
“Kan begitu itu tidak boleh dalam agama?”
“Dan yang ia perbuat, apa termasuk dibolehkan?”
Aku mencoba mendinginkannya. Kukatakan, tujuan baik harus dilakukan
dengan cara yang baik pula. Kalau ada orang gila, kita tak usaha ikut-ikut gila,
kataku. Ia masih tetap ngotot. Lantas ia bercerita. Bahwa sebelum itu, ia telah
berusaha menempuh jalan baik dan damai. Seorang ustad ia minta untuk
menasihati kakaknya agar mau membagi harta warisan itu. Kabarnya, menurut
ustad itu, kakaknya sudah punya itikad baik untuk melaksanakannya. Namun,
setelah sekian lama ia tunggu-tunggu, tak suatu apa pun terjadi. Kembali ia
memanggil ustad itu untuk menasihati lagi kakaknya. “Insya Allah berhasil,”
kata ustad. Namun, yang diharapkan tak pernah juga terjadi.
“Ustad itu hanya mengeruk duit saja,” umpatnya padaku.
“Berapa yang ia ambil?”
“Lima ratus ribu. Itu tarif dia dan tak dapat ditawar-tawar. Harus bayar di
depan lagi.”
“Ia yang menentukan?”
“Siapa lagi? Ustad apa namanya kalau begitu, Mas?”
“Mungkin ustad calo duit.”
“Bahkan akhirnya ia bicara kecil begitu: kalau saya bersedia memberinya
satu miliar dari bagian warisan yang akan saya terima, ia bersedia
mengurusnya sampai tuntas. Hebat nggak? Saya pura-pura nggak ngerti saja.”
Cukup prihatin juga melihatnya. Ia tunjukkan kepadaku daftar kekayaan
warisan ayahnya itu. Sejumlah toko besar yang terletak di sebelah jalan utama.
Sejumlah rumah mewah dengan segala macam perabotnya. Semua itu
disewakan atau dikontrakkan. Sejumlah sawah dan perkebunan kopi, kapal
laut pengangkut barang dan orang, dan masih banyak lagi. Kagum juga aku
dibuatnya. betapa kayanya sang ayah, ini menurut ukuranku, sampai
mempunyai harta yang beraneka ragam itu. namun setelah kematiannya, anakanaknya
jadi bersengketa.
“Begini saja,” kataku seperti menemukan sesuatu.
“Bagaimana kalau dituntut saja melalui pengadilan?”
Ia tiba-tiba saja tertawa.
“Pengadilan?” katanya dengan nada sinis.
“Ya, kenapa?”
“Sudah juga, Mas. dan menemui kegagalan dan jalan buntu. sebab semua
oknum yang berkaitan dengan pengadilan itu sudah tersumpal semua mata
dan mulut mereka dengan hanya beberapa juta untuk masing-masing. Kakak
saya sudah menyogok mereka semua, hingga semua berpihak kepadanya.
Malah saya yang lantas sesudah itu mau disalahkan dan diuber-uber. Hampir
saja saya kewalahan dalam hal ini. Bayangkan, saya yang tak bersalah malah
diuber-uber terus.”
“Lalu?”
“Ya terpaksa juga saya sumpal polisi yang selalu nguber saya itu, walau
tidak dengan jutaan, apa boleh buat.”“Jadi, saling main sumpal dari sana dan sini,” kataku sambil tersenyum.
“Yang enak yang di tengah-tengah, yang menerima sumpal itu.”
“Dunia sudah benar-benar sinting. Enak dulu waktu masih jadi mahasiswa
di luar negeri kan? Tiap harinya hanya pergi kuliah, dan tiap bulan terima
beasiswa. Beres, tanpa memikirkan masalah-masalah yang jungkir balik dan
absurd.”
* * *
Lalu diceritakannya padaku tentang kegiatan kakaknya belakangan ini. ia
baru saja selesai bikin sebuah masjid yang cukup besar, tak jauh di seberang
jalan di depan rumahnya. Juga tiap tahun ia pergi naik haji bersama seluruh
keluarganya. Tiap hari kopiah hajinya tak pernah lepas dari kepalanya. Dan
sebuah tasbih cukup besar dan panjang selalu dibawanya ke mana-mana.
“Yang begitu itu toh hanya ngibuli agama dan orang awam saja kan? Kalau
ia betul-betul ikhlas menjalankan agama, kan ia harus baik terhadap
sesamanya dan terutama sekali terhadap adik-adiknya. Dan harus
melaksanakan hukum waris yang sudah ditentukan juga oleh agama kan?
tapi ia menjalankan semua itu hanya untuk kedok belaka. Sementara batinnya
penuh keserakahan dan kebusukan.”
“Tapi Tuhan kan tak dapat ditipu?”
“Betul. Tapi Tuhan juga belum mau menolong saya, walau saya dalam
keadaan teraniaya. Hampir tiap hari saya salat tahajud, minta agar harta bagian
warisan saya itu benar-benar saya miliki. tapi hasilnya nol belaka.”
“Hm, Anda ternyata juga kurang ikhlas. Salat dan yang semacamnya itu
memang bagian tugas kita, bukan untuk minta-minta harta. Minta saja
keselamatan dunia dan akhirat dengan penuh tulus dan ikhlas, itu sudah
mencakup semuanya. Dan jangan melupakan usaha nyata tentunya. Itulah
kewajiban kita.”
Ia masih tampak sebal juga. Dan tak habis-habisnya mengomeli kakaknya
dan dunia sekelilingnya yang sudah ia anggap sinting dan gila itu. Ia pulang.
Sebelum keluar pagar halaman, sempat kukatakan padanya agar ia
melupakan saja rencananya untuk menyantet kakaknya itu. Ia hanya diam
dan tak memberikan komentar. Lama ia tidak muncul lagi ke rumah. Ada
barangkali lima minggu. padahal biasanya paling tidak seminggu sekali ia
datang. Aku juga tidak begitu mempedulikannya.
Sampai suatu pagi tiba-tiba ia datang seperti terburu-buru dan terengahengah.
“Celaka Mas, celaka besar!”
“Ada apa?” tanyaku.
“Kakak saya.”
“Ya, kenapa?”
“Tadi malam tiba-tiba ia datang ke rumah saya dengan keluarganya.
Katanya, belakangan ini ia selalu kedatangan ayah kami dalam mimpi dan
selalu dimarah-marahi. ia mulai jadi takut dan mulai jadi sadar.”
“Berita gembira?”
Ia mengangguk kecil, tapi wajahnya kelihatan hambar dan malah sedih.
“Kalau begitu, senyum dong. kan itu bukan sesuatu yang celaka.”
“Tapi, tapi benar-benar celaka!”
“Apanya? Kan tak lama lagi Anda akan jadi seorang konglomerat!”“Ya, tapi …”
“Tak usah susah dengan harta yang cukup banyak itu. kalau diperlukan,
saya bersedia jadi sekretaris anda. kan dapat juga kecipratan!”
“Bukan itu, Mas.”
“Tak usahlah. kita bergembira saja, bersyukur kepada Tuhan yang telah
memberikan petunjuk kepada kakak Anda, hingga terbuka hatinya ke jalan
yang benar.”
“Ya, tapi …, tapi saya telah melakukannya.”
“Melakukan apa?”
“Saya … telah suruh santet kakak saya semalam sebelum ia datang ke
rumah. Saya tidak tahu.”
“Apa?” aku terbelalak seketika.
Tidak tahu aku apa yang mesti kulakukan. Aku hanya terhenyak lemas di
atas kursi. Dalam benakku, aku hanya berdoa mudah-mudahan santetnya itu
tidak mempan atau tidak mandi. itu saja.

2. Cerpen “Dendang Sepanjang Pematang” karya M.Arman AZ

Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang. Ohoi, pohon randu, inilah dia si anak hilang. Lama sudah dia tak pulang. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang. Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Sekian tahun silam, menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau, aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Tak ada lagi ukiran nama kami.

Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Kuhela napas haru. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru.

Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang, kusaksikan pagi menggeliat lagi. Ufuk timur perlahan benderang. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto, guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat, sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya?

Kemarin siang, di tengah raung mesin pabrik, ponsel tuaku bergetar. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Aku kaget mendengar suara Ayub. Dia salah seorang sahabatku di kampung. “Pak Narto wafat!” jeritnya dari seberang sana. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa, Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain. Kutimang ponsel dengan gamang. Kenangan kampung halaman begitu menyentak.

***

Aku tertegun menatap rumah Ayub. Dindingnya dari papan. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Tanaman hias memagari rumahnya. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. Sedap dipandang mata. Di depan rumah ada bale-bale bambu. Ruas-ruasnya sudah renggang. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. Terdengar sahutan, langkah tergopoh, dan derit pintu yang dikuak.

“Man?!” Dia terperangah. Aku tersenyum. Sudah lama kami tak bersua. Detik itu juga, waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan.

“Baru datang? Wah, pangling aku. Gemuk kau sekarang. Sudah jadi orang rupanya. Ah, sampai lupa aku. Ayo masuk.” Runtun kalimatnya. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. Ayub memanggil istrinya. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi.

Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Diam-diam kucermati sosoknya. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. Tubuhnya kekar. Kulitnya legam. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Ketika senyum atau bicara, gigi putihnya berderet rapi. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini.

Dari semua nama yang terpahat di batang randu, cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota, ke pulau seberang, bahkan ke negeri orang. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. Katanya, meski sempat diserang hama wereng, panen dua bulan lalu cukup lumayan. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan.

Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Tawaran itu menohok batinku. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat, aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Kami ingin merantau. Mencari nasib yang lebih baik. Setelah hasil penjualan dibagi rata, kami pun berpencar ke penjuru mata angin.

Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. Lingkungannya kumuh, dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Kami sudah biasa antre mandi, buang hajat, atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng.

Ayub terpana mendengar ceritaku. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela, “Jangankan mengalaminya, membayangkannya saja aku tak sanggup.”

Menepis risau, kuraih gagang gelas. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Ah, kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Sambil menyulut rokok, Ayub berkata, “Kenapa tak pulang saja, Man? Beli sawah. Bertani. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu.”
Aku tercekat. Sekian lama di rantau, sekian jauh berjarak dengan kampung halaman, tak pernah terbersit di benakku untuk pulang.

***

Sepanjang jalan menuju rumah duka, kami kenang kawan-kawan lama. Maryamah, gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya, kini jadi biduan orkes dangdut. Namanya diubah jadi Marta. Kata Ayub, jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Darto, yang paling pintar di kelas kami, jadi tukang becak di kota. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Dia jadi bencong. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. Lantas kuingat Abas. Ayub bilang, dia ketiban bulan. Hidupnya kini makmur. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Abas ditugasi mengurus koperasi. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan, lebih baik bunuh Abas duluan, sebab culasnya melebihi ular. Dan si Ahmad, anak pendiam dan alim itu, sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura.

Ah, waktu telah mengubah segalanya. Kisah teman-teman lama membuatku takjub, heran, campur sedih. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto, kami beringsut keluar dari ruang tamu. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Makin tinggi matahari, makin banyak pelayat datang. Aku termangu menatap rumah duka itu. Ada tarup besar memayungi halaman. Kursi-kursi plastik penuh terisi. Dari bisik-bisik yang kudengar, Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Dia tak bisa datang melayat.

Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Meski tak ada hubungan darah, kami merasa selayaknya saudara. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Merantau jadi pilihan kami, anak-anak muda kala itu.

Sejauh-jauh terbang, warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Begitu juga jika ada yang meninggal, Kami yang di rantau pasti dikabari. Tapi, entah kenapa, sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung, hanya segelintir teman yang kutemui. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam?

***

Hari kedua di kampung. Ayub mengajakku ke sawah. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu, guraunya. Di jalan, kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Ada yang menggoes sepeda. Aku terharu. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol.

Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. Ngebut di jalan tanah berbatu. Meninggalkan debu panjang di depan mataku.

Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana, dekat rimbunan pohon pisang. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu, Ayub mengajakku turun. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan.

Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan.
Lir ilir, lir ilir. Tandure wis semilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar…

Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. Namun, entah kenapa, bibirku terasa kelu.

Dari huma beratap rumbia, kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Batang-batang padi meliuk. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Entah siapa peniupnya. Mendengarnya, aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu.

Kami pulang menjelang petang. Memutari jalan kampung. Meski lebih jauh jaraknya, tapi aku tak keberatan. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Sesampainya di sana, hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Setelah segar kami pulang. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi, tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Aku ingat, Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Bidikannya paling jitu di antara kami. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Menggelepar di semak-semak. Kami mengendap-endap. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu.

Ayub menghardik mereka. Aku terpana. Merasa tertangkap basah, wajah keduanya pucat dan merah padam. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Kami kembali melanjutkan langkah. Wajah Ayub kaku. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi.

***

Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Bintang bertaburan di langit lama. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Aku serasa sedang berada di sorga.
“Kampung kita sudah berubah, Man,” kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang.

“Ya, aku seperti orang asing di sini,” suaraku gamang.
“Semua teman kita pergi merantau. Jadi TKI, babu, atau buruh sepertimu. Tetua kampung meninggal satu-satu. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. Asal kau tahu, apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa…”

Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Aku enggan bertutur lebih banyak. Aku harus tahu diri. Setelah memilih jadi manusia urban, aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini.

***

Izin cuti empat hari telah usai. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti. Aku harus pulang pagi ini. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. Tapi biarlah kutelan dalam hati saja.

Dengan motor tuanya, Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang.

Persis ketika kami lewati pohon randu itu, lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan. Namun sekedar menghibur diri, kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Satu saat nanti, jika ada uang, aku mau pulang. Membeli sawah. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. Makan dari hasil keringat sendiri. Hidup tenteram bersama anak istri.

Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan, cuma bisa tersenyum giris…***

LATIHAN : bandingkan ke dua CERPEN di atas dengan menjawab pertanyaan di bawah ini!

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Apa tema cerpen “Warisan” dan “Dendang Sepanjang Pematang”?

2. Sebutkan nama-nama tokoh yang terlibat!

3. Jelaskan perwatakan masing-masing tokoh!

4. Jelaskan latar (waktu, tempat, dan suasana) peristiwa dalam cerpen “Warisan”!

5. Temukan nilai:             a. nilai kehidupan

b. nilai agama

c. nilai sosial

d. nilai budaya

 

 

About these ads

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Dikaitkatakan dengan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: