Menulis Kembali Isi Cerpen   Leave a comment

hidup peristiwa, perlu ditulis

 

KOMPETENSI DASAR: Siswa  mampu menuliskan kembali dengan kalimat sendiri cerita pendek yang pernah dibaca.

MATERI: CERPEN

RINGKASAN

Pada pembelajaran ini, kamu akan belajar menuliskan kembali isi
cerpen yang pernah kamu baca. Hal itu merupakan salah satu cara untuk
mengetahui tingkat pemahaman terhadap sesuatu yang pernah kamu baca.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis kembali cerpen adalah
1. menentukan tema;
2. menampilkan tokoh;
3. menentukan latar baik tempat, waktu, atau suasana;
4. menentukan alur cerita.

Bacalah cerpen berikut!

KERBAU PAK BEJO
Karya: Riannawati
“Perumahan ini akan indah jika tidak ada kotoran kerbau!” Begitulah kira-kira yang diinginkan
oleh seluruh warga Griya Baru Permai. Bayangkan, di zaman modern begini masih ada kotoran
kerbau di jalan?
Mobil dan motor cling yang keluar dari rumah-rumah mewah di sana setiap pagi mau tak mau
melindas sesuatu yang menjijikkan berwarna hijau kekuningan itu. Belum lagi baunya yang
menyengat. “Pak Bejo itu apa nggak punya perasaan!” umpat seorang wanita yang berdandan
menor.
Laki-laki di sampingnya yang sedang mengemudi ikut memasang tampang cemberut. Begitu,
juga pengendara motor yang meliuk-liuk menghindari kotoran kerbau itu.
“Kerbau sialan!”
Dan, berbagai keluhan lainnya. Selama ini kejengkelan itu mereka pendam. Warga sepakat
untuk berkumpul di rumah Pak RT. Unek-unek mereka ditumpahkan di sana.
“Dulu saat perumahan itu dibangun, posisi rumah Pak Bejo memang sudah ada di sana.
Setiap kali hendak ke sawah untuk membajak, ya, jalan ini yang dilewati Pak Bejo,” ujar Pak RT
menjelaskan.
“Jadi, kalau sekarang jalan sini sudah halus dan banyak perumahan bagus berdiri bukan salah
Pak Bejo. Ya, memang jalannya lewat depan rumah Bapak-Ibu semua!”
“Betul Pak RT, tapi kan harusnya Pak Bejo mengerti, kalau lingkungannya sekarang bukan
seperti dulu lagi. Tetangganya pun jauh berbeda,” ucap Pak Herman, seorang manajer perusahaan
tekstil di kota itu.
“lya, Pak RT. Masak tiap pagi kita ditambahi sarapan yang lain. Melihatnya saja saya mual,”
kali ini suara Ibu Arini, wanita karier yang memiliki beberapa butik.
“Merusak kebersihan perumahan!”
“Membawa virus penyakit!”
“Polusi udara!”
Segala protes dilayangkan warga kepada Pak RT agar Pak RT langsung bilang pada Pak
Bejo, warga tentu saja tak berani. Pak Bejo adalah sesepuh di wilayah itu. Suaranya selalu terdengar
dari musala samping rumahnya ketika waktu salat tiba.
“Saya ingin membeli kerbau Pak Bejo. Sepertinya kok kerbau itu membawa rezeki, ya,” Pak
Hardian meminta langsung pada Pak Bejo yang nampak terkejut.
“Sampeyan itu pegawai kantor ngapain mau beli kerbau?” Pak Bejo terkekeh-kekeh. Giginya
yang tak lagi lengkap kelihatan. “Memangnya sampeyan punya sawah untuk dibajak?”
“Nggg…ti tidak…tapi…” Pak Hardian gugup. “Saya ingin memberikan kerbau itu untuk keponakan
saya yang ada di kampung,” jawabnya lega karena menemukan alasan yang tepat.
“Walah… Pak, sampeyan ini kok lucu, di kampung kan lebih banyak kerbau yang dapat dibeli,
lebih murah dan lebih dekat. La… kalau kerbau saya harus diangkut-angkut, nambahi ongkos!”
lagi-lagi Pak Bejo tertawa.
Pak Hardian tak menyerah, “Tapi saya ingin kerbau Pak Bejo, sepertinya membawa untung
begitu!” ujarnya sambil tersenyum ramah.
“Membawa untung apa? Sampeyan itu syirik Io kalau bilang begitu! Kerbau, ya, kerbau, yang
ngasih untung itu Gusti Allah. Kalau saya untung, ya,karena saya memakai kerbau itu untuk
membajak sawah,” jawab Pak Bejo, tegas.

“Maaf, Pak Hardian. Saya tidak menjual kerbau saya!”
“Sawah? Sawah yang mana?” tanya Pak Bejo kepada Pak Romli, yang datang ke rumahnya
hendak membeli sawahnya.
“Yang di selatan jalan, Pak, yang sering Bapak bajak itu!”
“La nanti kalau sawah itu saya jual, saya kerja apa?” Pak Bejo malah balik bertanya. Pak
Romli garuk-garuk kepala. Setelah Pak Hardian gagal dengan rencana pertama, gilirannya
menjalankan rencana kedua. Kalau Pak Bejo tidak punya sawah untuk dibajak, kemungkinan besar
kerbaunya akan dijual juga. Itu berarti keinginan warga akan segera terpenuhi.
“Hasil penjualan sawah nanti kan dapat untuk modal usaha, Pak. Saya janji akan membelinya
dengan harga tinggi!” rayu Pak Romli.
Pak Bejo termangu.
“Saya tidak akan menjual sawah saya!” bentak Pak Bejo seperti kehilangan kesabarannya.
Warga kembali berkumpul di rumah Pak RT. “Bagaimana Pak, kita sudah mencoba semua
rencana yang kita susun. Tetapi, tetap saja Pak Bejo nggak mau menjual kerbaunya,” suara Pak
Hardian.
“lya, malah kita kena malu karena Pak Bejo akhirnya marah,” Pak Hasan menimpali.
Semuanya terdiam sesaat.
“Apa nggak sebaiknya kita ngomong baik-baik dengan Pak Bejo?” Pak RT kembali membuka
pembicaraan. Yang duduk di sekelilingnya saling pandang.
“Kita sampaikan kalau kotoran kerbaunya benar-benar mengganggu warga.”
“Assalamu’alaikum!” tiba-tiba terdengar salam dari pintu luar. Sosoknya yang telah sepuh dengan
kulit legamnya karena terbakar terik matahari tersenyum ramah kepada semua yang di dalam
rumah.
Orang yang mereka bicarakan tiba-tiba datang. Tak ada yang tahu Pak Bejo sejak tadi
mendengarkan pembicaraan mereka. Persis yang telah diduga Pak Bejo sebelumnya.
“Maaf Bapak-bapak, saya mengganggu,” kata Pak Bejo, lembut. Tak ada nada kemarahan
dalam raut wajahnya yang penuh guratan karena dimakan usia. Pak Bejo hanya ingin menjelaskan
semuanya.
“Saya tahu maksud panjenengan semua itu baik,” lanjutnya. “Tapi izinkan saya menjelaskan,”
Pak Bejo menatap satu-satu wajah tetangganya.
“Saya ini orang desa, yang tidak bisa bekerja apa-apa selain di sawah dan memelihara kerbau.
Saya minta maaf, kalau selama ini membuat resah warga sini,” Pak Bejo tertunduk.
Semua tak ada yang bersuara.
“Saya tahu kotoran kerbau saya mengganggu panjenengan semua, tapi kalau kerbau itu saya
jual, berarti saya nggak punya pekerjaan. Lalu saya mau makan apa?” suaranya melemah.
“Setiap pagi saya ke sawah membajak satu-satunya jalan, ya, lewat depan rumah Bapakbapak
semua. Kalau tiba-tiba di situ kerbau saya e-ek, saya juga nggak dapat ngelarang dia”
Hening sesaat.
Semua larut dalam rasa serba tak enak. Perasaan bersalah perlahan-lahan merayapi hati.
Kerbau dan pekerjaan Pak Bejo adalah penghidupannya. Kalau kemudian gara-gara pekerjaan itu
warga tak berkenan, apakah kemudian begitu saja dia melepaskan sumber penghidupannya?
“Maafkan saya…tapi tolong beri saya solusi,” ujar Pak Bejo terpatah-patah. Sudut matanya
berair. Pekerjaan baginya adalah harga diri. Kerbau itulah harga dirinya. Harga dirinya sebagai
laki-laki.
Sumber: Solo Pos, 31 Agustus 2007

Latihan 3.4

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Apa tema cerpen di atas?
2. Siapa tokoh cerpen di atas?
3. Jelaskan latar tempat, waktu, dan suasana dalam cerpen tersebut!
4. Bagaimana alur cerpen di atas?
5. Sebutkan peristiwa penting dalam cerpen di atas!

 

apa gunanya baca kalo tidak bisa menulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 3.5

Tuliskan kembali isi cerpen tersebut dengan bahasamu sendiri!

About these ads

Posted Juni 22, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: