Archive for the ‘MATERI KELAS 9’ Category

BAB IV: 4. Meresensi Buku Pengetahuan   Leave a comment

Buku Jendela Ilmu

KOMPETENSI DASAR: Siswa dapat

* menulis data buku yang dibaca,
• menulis ikhtisar isi buku,
• mendaftar butir-butir yang merupakan kelebihan dan kekurangan buku,
• menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atau isi buku, dan
• memadukan ikhtisar dan tanggapan pribadi ke dalam tulisan yang utuh.

MATERI : Resensi Buku

RINGKASAN

Membaca adalah kegiatan yang mendatangkan banyak manfaat.
Dengan membaca, kamu akan memperoleh banyak informasi sehingga
akan menambah pengetahuan. Informasi tentang buku baru sering dimuat
di surat kabar atau majalah yang berupa artikel resensi. Tahukan kamu apa
yang dimaksud resensi? Resensi adalah menilai atau menimbang kelebihan
dan kekurangan buku.

Sebuah resensi harus memuat hal-hal sebagai berikut.
1. Data buku atau identitas buku
a. Judul buku
Jika buku yang akan kamu resensi adalah buku terjemahan, akan
lebih baik jika kamu menuliskan judul asli buku tersebut.
b. Penulis atau pengarang
Jika buku yang diresensi adalah buku terjemahan, kamu harus
menyebutkan penulis buku asli dan penerjemah.
c. Nama penerbit
d. Cetakan dan tahun terbit
e. Tebal buku dan jumlah halaman
2. Judul Resensi
Judul resensi boleh sama dengan judul buku, tetapi tetap dalam konteks
buku itu.

3. Ikhtisar Isi Buku
Dalam meresensi buku, seorang peresensi harus menulis buku yang
hendak diresensi.
Ikhtisar adalah bentuk singkat dari suatu karangan atau rangkuman.
Ikhtisar merupakan bentuk singkat karangan yang tidak
mempertahankan urutan karangan atau buku asli, sedangkan ringkasan
harus sesuai dengan urutan karangan atau buku aslinya.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat ikhtisar isi
buku adalah sebagai berikut.
a. Membaca naskah/buku asli
Penulis ikhtisar harus membaca buku asli secara keseluruhan untuk
mengetahui gambaran umum, maksud, dan sudut pandang
pengarang.
b. Mencatat gagasan pokok dan isi pokok setiap bab
c. Membuat reproduksi atau menulis kembali gagasan yang dianggap
penting ke dalam karangan singkat yang mempunyai satu kesatuan
yang padu.
4. Kelebihan dan Kekurangan Buku
Penulis resensi harus memberikan penilaian mengenai kelebihan dan
kelemahan buku yang disertai dengan ulasan secara objektif.
5. Kesimpulan
Penulis resensi harus mengemukakan apa yang diperolehnya dari buku
yang diresensi dan imbauan kepada pembaca. Jangan lupa cantumkan
nama kamu selaku peresensi.

 
Perhatikan contoh resensi berikut!
Judul : Pesona Barat: Analisa Kritis-Historis tentang Kesadaran Warna
Kulit di Indonesia
Penulis : Vissia Ita Yulianto
Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : 1, 2007
Tebal : xvii+170 halaman

KETERPESONAAN “TIMUR” TERHADAP “BARAT

Definisi “cantik” kini sudah mengalami pergeseran makna. Idealisme kecantikan yang terdapat
dalam kakawin-literatur pada zaman budaya Jawa, belum mempunyai hubungan atau kontak dengan
budaya Barat menunjukkan kecantikan diasosiasikan dengan alam, seperti bunga, gunung, laut,
dan padanan lainnya.

Di era 1980-an, perempuan Indonesia tersihir dengan kosmetik lokal yang menjanjikan kulit
kuning langsat bak putri keraton. Kini, cantik dinarasikan dengan warna kulit yang putih, badan
tinggi semampai, dan wajah Indo. Hal ini terepresentasi dengan munculnya berbagai iklan yang
menawarkan produk pemutih kulit dan wajah.

Bagi masyarakat, khususnya perempuan Indonesia, memiliki kulit putih bukan semata-mata
karena warna kulitnya saja, tetapi juga semua simbol yang melekat padanya: prestise, percaya
diri, superioritas, dan dipandang sebagai satu representasi “Barat”.

Buku ini menyajikan sebuah konteks bagaimana kolonialisme Belanda, refeodalisme rezim
Orde Baru, dan kapitalisme global menjadi sebuah sinergi dalam membentuk kesadaran tentang
dan perilaku terhadap warna kulit di Indonesia kontemporer.

Di bawah kolonialisme Belanda, politik diskriminasi dan pemaksaan budaya mengakibatkan
berakarnya mentalitas inlander (konsep rendah diri) dalam masyarakat pribumi. Menganggap
“Barat” sebagai bangsa yang lebih unggul, merasa rendah diri di hadapan mereka, serta masih
adanya mental inlander inilah yang dimaksud penulis sebagai keterpesonaan bangsa “Timur” yang
“terjajah” terhadap “Barat”. (DEW/Litbang Kompas)
Sumber: Kompas, 26 Agustus 2007

Latihan 4.6

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Apa judul buku yang diresensi di atas?
2. Siapa pengarang buku yang diresensi di atas?
3. Sebutkan kelebihan buku yang diresensi di atas!
4. Sebutkan pula kelemahan buku yang diresensi di atas!
5. Jelaskan kesimpulan yang terdapat dalam resensi di atas!

Posted Juni 23, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

BAB IV : 3. Membaca Memindai Buku Berindeks   Leave a comment

BUDAYAKAN BACA

 

KOMPETENSI DASAR:  Siswa dapat menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks buku melalui kegiatan membaca memindai.

MATERI: Membaca buku indeks

RINGKASAN

Membaca memindai atau scanning adalah membaca untuk menemukan
informasi secara cepat dan tepat. Membaca memindai sering dimanfaatkan
antara lain untuk:
1. mencari kata dalam kamus,
2. mencari entri pada indeks,
3. mencari nomor telepon,
4. melihat angka statistik,
5. melihat daftar pelajaran, dan
6. melihat jadwal dan sebagainya

Kamu akan memindai suatu indeks dalam sebuah buku. Indeks adalah
daftar kata atau istilah penting. Halaman indeks terletak pada bagian
belakang atau akhir sebuah buku. Indeks tersusun menurut abjad. Setiap
indeks dilengkapi dengan nomor halaman buku yang terletak di belakang
istilah itu.

Ada beberapa kiat dalam membaca memindai antara lain sebai berikut.
1. Gerakan mata dari atas ke bawah dengan cepat.
2. Apabila istilah yang akan dicari diawali dengan huruf M, kita harus
mencari di indeks yang dimulai huruf M pula.
3. Bila informasi telah ditemukan, fokuskan perhatian dan mata pada
bagian tersebut.

 

Latihan 4.5

Jawablah pertanyaan berikut dengan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia!
1. Pada halaman berapa ditemukan kata pasien? Tuliskan kalimat yang memakai kata pasien!
2. Pada kalimat berapa ditemukan kata ekosistem? Tuliskan kalimat yang memakai kata ekosistem!

3. Berdasarkan kamus, temukan kata-kata berikut, jelaskan maksudnya!
a. biotik
b. ultra
c. akut
d. hidrogen
e. otak
4. Sebutkan kegunaan membaca memindai!
5. Sebutkan kiat-kiat membaca memindai!

Pusing “Kata dalam arak”

 

 

TUGAS MANDIRI

1. Bacalah sebuah artikel di majalah atau surat kabar!
2. Temukan kata-kata sulit dalam bacaan tersebut!
3. Carilah makna kata sulit yang kamu temukan di dalam kamus!

 

 

Posted Juni 23, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

BAB IV: 2. Musikalisasi Puisi   Leave a comment

Ekspresi Puisi, “Hebat ya!”

 

KOMPETENSI DASAR: Siswa dapat menyajikan puisi yang sudah dimusikalisasi

MATERI: Puisi

RINGKASAN

Puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif
dengan memanfaatkan diksi (pilihan kata) atau unsur puisi yang lain. Puisi
akan lebih indah jika dibacakan atau dilantunkan.

Musikalisasi puisi merupakan kegiatan mengekspresikan puisi dalam
bentuk lagu. Dalam menampilkan musikalisasi puisi, penghayatan dan
penjiwaan sangat menentukan keberhasilannya. Tanpa penghayatan dan
penjiwaan yang tepat, musikalisasi puisi akan terasa hambar untuk didengar.

Perhatikanlah contoh puisi di bawah ini!

ANDAI KUTAHU
Karya Pasha (Ungu)

Andai kutahu
Kapan tiba ajalku
Ku kan memohon
Tuhan tolong panjangkan umurku

Andai kutahu
Kapan tiba masaku
Ku kan memohon
Tuhan jangan kau ambil nyawaku
Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku

Andai kutahu
Malaikat-Mu kan menjemputku
Izinkan aku mengucap kata taubat pada-Mu
Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku
Ampuni aku dari segala dosa-dosaku
Ampuni aku menangisku bertobat pada-Mu
Aku manusia yang takut neraka

Namun aku juga tak pantas di surga Andai kutahu
Kapan tiba ajalku
Ku kan memohon
Izinkan aku mengucap kata taubat pada-Mu

Latihan 4.3

Jawablah pertanyaan berikut!
1. Apa isi bait pertama syair lagu “Andai Kutahu” di atas?
2. Citraan apa yang digunakan dalam lirik lagu di atas?
3. Sebutkan pesan yang terkandung dalam lirik lagu tersebut!
4. Sebutkan makna kata:
a. tiba masaku,
b. dosa yang membayangiku,
c. menangisku bertaubat, dan
d. aku juga tak pantas di surga.
5. Ceritakan isi keseluruhan syair lagu tersebut!

Latihan 4.4

Carilah teman yang dapat memainkan alat musik gitar atau lainnya. Kemudian musikalisasikan
puisi di bawah ini sesuai dengan isi puisi tersebut!

 

Hidup bagai puisi. Penuh ambigu

 
BUNDA
Karya Melly Guslaw
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambaran diri
Kecil bersih belum ternoda

 
Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

 
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

 
Nada-nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangis nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

 
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

 
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

 

Oh bunda
Ada dan tiada
Dirimu kan slalu
Ada di dalam hatiku

JIWA SELALU BERPUISI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tugas

Carilah puisi di surat kabar atau majalah!
Musikalisasikan puisi tersebut sesuai isi dengan suasana/irama yang membangun!

Posted Juni 23, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

BAB IV : 1. Mendengarkan Dialog Interaktif   Leave a comment

Makan? Jangan Asal Kenyang. Waspada!!!

 

KOMPETENSI DASAR: Siswa dapat mengomentari pendapat  narasumber

MATERI : Dialog interaktif

RINGKASAN

Pada Pelajaran 1, kamu pernah mempelajari dialog interaktif dan
menyimpulkan isi dialog. Dalam sebuah dialog atau wawancara, ada
pewawancara atau penanya dan narasumber sebagai sumber informasi.
Narasumber tentu saja tidak boleh asal menjawab atau berpendapat ketika
diwawancarai. Pendapat yang disampaikan pun harus cermat, objektif, dan
dipikirkan secara matang sehingga mampu memberi jawaban yang
dikehendaki. Seorang pendengar atau penanya pun hendaknya selalu
bersikap kritis terhadap pendapat yang dikemukakan seorang narasumber.
Pada pembelajaran ini, kamu akan belajar mengomentari pendapat
narasumber. Jika ada pendapat yang dinilai menyimpang dan bertentangan
dengan logika masyarakat umum, kamu boleh memberikan tanggapan atau
komentar dengan cara yang santun.

Tutuplah buku kamu, dengarkanlah teks dialog yang akan dibacakan
oleh teman kalian!

JANGAN PRIORITASKAN PERDAGANGAN DI ATAS KESEHATAN

 

Makanan Haram No!!

 
Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu meminta Badan Pemeriksa Obat dan
Makanan (BPOM) untuk sementara tidak mengumumkan produk makanan Tiongkok yang
berformalin kepada masyarakat. Tujuannya adalah agar tidak mengganggu hubungan perdagangan
kedua negara. Namun, tindakan itu mendapat reaksi keras dari Komisi IX DPR RI. Berikut petikan
wawancara seorang wartawan dengan anggota Komisi IX dari Fraksi Golkar, Mariani Baramuli.

 
Bagaimana pendapat Anda soal larangan Mendag itu?
Kita harus melindungi masyarakat. Tidak boleh ada formalin dalam makanan kita. Itu sudah
ada dalam ilmu pengetahuan. Makanan tidak boleh diberi formalin. Masyarakat berhak tahu. Saya
minta pemerintah mengikuti track tersebut.

 
Apa pentingnya public warning?
Mengamankan semua produk makanan dari bahan berbahaya, tidak hanya dari Tiongkok.

 
Apa yang harus dilakukan BPOM dengan Iarangan public warning itu?
BPOM harus tetap mengumumkan kepada masyarakat. Jangan karena takut nilai ekspor kita
menurun, lantas kita menafikan pentingnya kesehatan bagi rakyat. Mau berdagang silakan, tetapi
standar kesehatan tetap harus diutamakan. Jangan hanya karena ingin perdagangan meningkat,
kita biarkan rakyat sakit. Karena itu, produk tersebut betul-betul dilarang. Bukan karena berasal
dari Tiongkok, tetapi ada kandungan berbahaya di dalamnya.

 

Bagaimana caranya agar masyarakat dapat menenali produk makanan yang mengandung
formalin?
Gampang, lihat saja di label kemasan. Kalau disebutkan ada kandungan formaldehid, meskipun
ibaratnya hanya 0,1 persen, ya, jangan dibeli.

 
Apakah kita memang harus tegas dengan risiko barang kita ditolak di Tiongkok?
Sekarang saya tanya Anda, pilih sehat atau sakit? Pilih cacat atau normal? Saya rasa, rakyat
Tiongkok sendiri akan menolak jika tahu bahayanya formalin yang dimasukkan sebagai pengawet
makanan. Maka, masyarakat kita dan Tiongkok juga harus diberikan pengertian yang sama bahwa
formalin itu tidak boleh digunakan pada makanan.

Sumber: Jawa Pos, 5 September 2007

Latihan 4.1

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Apa isi wawancara tersebut?
2. Siapa narasumber dalam dialog atau wawancara di atas?
3. Apa isi permintaan atau larangan Mendag kepada BPOM?
4. Menurut narasumber, apa arti public warning?
5. Menurut narasumber, bagaimana cara mengenali makanan berformalin?

 

Latihan 4.2

Berikan komentar terhadap pendapat narasumber pada wawancara di bawah ini!

NO         TOKOH                                                                                                 PERWATAKAN

1.         Tidak boleh ada formalin dalam makanan kita.                    ………………………………………………………………..
Masyarakat berhak tahu.

2.         Semua produk makanan yang mengandung bahan           …………………………………………………………………
berbahaya harus diamankan.

3.         Perdagangan boleh meningkat, tetapi standar                     ………………………………………………………………..
kesehatan harus tetap diutamakan.

4.        Masyarakat harus tahu makanan yang mengandung         ………………………………………………………………..
formaldehid, walaupun makanan mengandung 0,1
persen, ya, jangan dibeli.

5.       Kita harus tegas menolak barang atau makanan                   ………………………………………………………………..
yang berbahaya bagi kesehatan.

 

TUGAS MANDIRI

1. Dengarkan sebuah dialog dari radio atau televisi, kemudian catatlah pendapat setiap
narasumber dalam dialog tersebut!
2. Berikan komentar atau tanggapan terhadap narasumber tersebut dan beri alasannya!

Posted Juni 23, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Menulis Kembali Isi Cerpen   Leave a comment

hidup peristiwa, perlu ditulis

 

KOMPETENSI DASAR: Siswa  mampu menuliskan kembali dengan kalimat sendiri cerita pendek yang pernah dibaca.

MATERI: CERPEN

RINGKASAN

Pada pembelajaran ini, kamu akan belajar menuliskan kembali isi
cerpen yang pernah kamu baca. Hal itu merupakan salah satu cara untuk
mengetahui tingkat pemahaman terhadap sesuatu yang pernah kamu baca.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis kembali cerpen adalah
1. menentukan tema;
2. menampilkan tokoh;
3. menentukan latar baik tempat, waktu, atau suasana;
4. menentukan alur cerita.

Bacalah cerpen berikut!

KERBAU PAK BEJO
Karya: Riannawati
“Perumahan ini akan indah jika tidak ada kotoran kerbau!” Begitulah kira-kira yang diinginkan
oleh seluruh warga Griya Baru Permai. Bayangkan, di zaman modern begini masih ada kotoran
kerbau di jalan?
Mobil dan motor cling yang keluar dari rumah-rumah mewah di sana setiap pagi mau tak mau
melindas sesuatu yang menjijikkan berwarna hijau kekuningan itu. Belum lagi baunya yang
menyengat. “Pak Bejo itu apa nggak punya perasaan!” umpat seorang wanita yang berdandan
menor.
Laki-laki di sampingnya yang sedang mengemudi ikut memasang tampang cemberut. Begitu,
juga pengendara motor yang meliuk-liuk menghindari kotoran kerbau itu.
“Kerbau sialan!”
Dan, berbagai keluhan lainnya. Selama ini kejengkelan itu mereka pendam. Warga sepakat
untuk berkumpul di rumah Pak RT. Unek-unek mereka ditumpahkan di sana.
“Dulu saat perumahan itu dibangun, posisi rumah Pak Bejo memang sudah ada di sana.
Setiap kali hendak ke sawah untuk membajak, ya, jalan ini yang dilewati Pak Bejo,” ujar Pak RT
menjelaskan.
“Jadi, kalau sekarang jalan sini sudah halus dan banyak perumahan bagus berdiri bukan salah
Pak Bejo. Ya, memang jalannya lewat depan rumah Bapak-Ibu semua!”
“Betul Pak RT, tapi kan harusnya Pak Bejo mengerti, kalau lingkungannya sekarang bukan
seperti dulu lagi. Tetangganya pun jauh berbeda,” ucap Pak Herman, seorang manajer perusahaan
tekstil di kota itu.
“lya, Pak RT. Masak tiap pagi kita ditambahi sarapan yang lain. Melihatnya saja saya mual,”
kali ini suara Ibu Arini, wanita karier yang memiliki beberapa butik.
“Merusak kebersihan perumahan!”
“Membawa virus penyakit!”
“Polusi udara!”
Segala protes dilayangkan warga kepada Pak RT agar Pak RT langsung bilang pada Pak
Bejo, warga tentu saja tak berani. Pak Bejo adalah sesepuh di wilayah itu. Suaranya selalu terdengar
dari musala samping rumahnya ketika waktu salat tiba.
“Saya ingin membeli kerbau Pak Bejo. Sepertinya kok kerbau itu membawa rezeki, ya,” Pak
Hardian meminta langsung pada Pak Bejo yang nampak terkejut.
“Sampeyan itu pegawai kantor ngapain mau beli kerbau?” Pak Bejo terkekeh-kekeh. Giginya
yang tak lagi lengkap kelihatan. “Memangnya sampeyan punya sawah untuk dibajak?”
“Nggg…ti tidak…tapi…” Pak Hardian gugup. “Saya ingin memberikan kerbau itu untuk keponakan
saya yang ada di kampung,” jawabnya lega karena menemukan alasan yang tepat.
“Walah… Pak, sampeyan ini kok lucu, di kampung kan lebih banyak kerbau yang dapat dibeli,
lebih murah dan lebih dekat. La… kalau kerbau saya harus diangkut-angkut, nambahi ongkos!”
lagi-lagi Pak Bejo tertawa.
Pak Hardian tak menyerah, “Tapi saya ingin kerbau Pak Bejo, sepertinya membawa untung
begitu!” ujarnya sambil tersenyum ramah.
“Membawa untung apa? Sampeyan itu syirik Io kalau bilang begitu! Kerbau, ya, kerbau, yang
ngasih untung itu Gusti Allah. Kalau saya untung, ya,karena saya memakai kerbau itu untuk
membajak sawah,” jawab Pak Bejo, tegas.

“Maaf, Pak Hardian. Saya tidak menjual kerbau saya!”
“Sawah? Sawah yang mana?” tanya Pak Bejo kepada Pak Romli, yang datang ke rumahnya
hendak membeli sawahnya.
“Yang di selatan jalan, Pak, yang sering Bapak bajak itu!”
“La nanti kalau sawah itu saya jual, saya kerja apa?” Pak Bejo malah balik bertanya. Pak
Romli garuk-garuk kepala. Setelah Pak Hardian gagal dengan rencana pertama, gilirannya
menjalankan rencana kedua. Kalau Pak Bejo tidak punya sawah untuk dibajak, kemungkinan besar
kerbaunya akan dijual juga. Itu berarti keinginan warga akan segera terpenuhi.
“Hasil penjualan sawah nanti kan dapat untuk modal usaha, Pak. Saya janji akan membelinya
dengan harga tinggi!” rayu Pak Romli.
Pak Bejo termangu.
“Saya tidak akan menjual sawah saya!” bentak Pak Bejo seperti kehilangan kesabarannya.
Warga kembali berkumpul di rumah Pak RT. “Bagaimana Pak, kita sudah mencoba semua
rencana yang kita susun. Tetapi, tetap saja Pak Bejo nggak mau menjual kerbaunya,” suara Pak
Hardian.
“lya, malah kita kena malu karena Pak Bejo akhirnya marah,” Pak Hasan menimpali.
Semuanya terdiam sesaat.
“Apa nggak sebaiknya kita ngomong baik-baik dengan Pak Bejo?” Pak RT kembali membuka
pembicaraan. Yang duduk di sekelilingnya saling pandang.
“Kita sampaikan kalau kotoran kerbaunya benar-benar mengganggu warga.”
“Assalamu’alaikum!” tiba-tiba terdengar salam dari pintu luar. Sosoknya yang telah sepuh dengan
kulit legamnya karena terbakar terik matahari tersenyum ramah kepada semua yang di dalam
rumah.
Orang yang mereka bicarakan tiba-tiba datang. Tak ada yang tahu Pak Bejo sejak tadi
mendengarkan pembicaraan mereka. Persis yang telah diduga Pak Bejo sebelumnya.
“Maaf Bapak-bapak, saya mengganggu,” kata Pak Bejo, lembut. Tak ada nada kemarahan
dalam raut wajahnya yang penuh guratan karena dimakan usia. Pak Bejo hanya ingin menjelaskan
semuanya.
“Saya tahu maksud panjenengan semua itu baik,” lanjutnya. “Tapi izinkan saya menjelaskan,”
Pak Bejo menatap satu-satu wajah tetangganya.
“Saya ini orang desa, yang tidak bisa bekerja apa-apa selain di sawah dan memelihara kerbau.
Saya minta maaf, kalau selama ini membuat resah warga sini,” Pak Bejo tertunduk.
Semua tak ada yang bersuara.
“Saya tahu kotoran kerbau saya mengganggu panjenengan semua, tapi kalau kerbau itu saya
jual, berarti saya nggak punya pekerjaan. Lalu saya mau makan apa?” suaranya melemah.
“Setiap pagi saya ke sawah membajak satu-satunya jalan, ya, lewat depan rumah Bapakbapak
semua. Kalau tiba-tiba di situ kerbau saya e-ek, saya juga nggak dapat ngelarang dia”
Hening sesaat.
Semua larut dalam rasa serba tak enak. Perasaan bersalah perlahan-lahan merayapi hati.
Kerbau dan pekerjaan Pak Bejo adalah penghidupannya. Kalau kemudian gara-gara pekerjaan itu
warga tak berkenan, apakah kemudian begitu saja dia melepaskan sumber penghidupannya?
“Maafkan saya…tapi tolong beri saya solusi,” ujar Pak Bejo terpatah-patah. Sudut matanya
berair. Pekerjaan baginya adalah harga diri. Kerbau itulah harga dirinya. Harga dirinya sebagai
laki-laki.
Sumber: Solo Pos, 31 Agustus 2007

Latihan 3.4

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Apa tema cerpen di atas?
2. Siapa tokoh cerpen di atas?
3. Jelaskan latar tempat, waktu, dan suasana dalam cerpen tersebut!
4. Bagaimana alur cerpen di atas?
5. Sebutkan peristiwa penting dalam cerpen di atas!

 

apa gunanya baca kalo tidak bisa menulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Latihan 3.5

Tuliskan kembali isi cerpen tersebut dengan bahasamu sendiri!

Posted Juni 22, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Melaporkan Secara Lisan   Leave a comment

Arus Mudik Penyeberangan Merak-Bakahuni

Konser Musik Berlangsung Rusuh

 

 

KOMPETENSI DASAR: Siswa diharapkan dapat melaporkan secara lisan berbagai peristiwa dengan menggunakan kalimat yang jelas.

MATERI: Laporan Lisan

RINGKASAN

Setiap hari banyak kita jumpai peristiwa atau kejadian dari yang kurang
aktual sampai yang paling aktual. Kita dapat menemukan atau memperoleh

peristiwa dari media elektronik, seperti televisi, radio, internet,
serta dari media cetak, seperti koran dan majalah. Sekarang ini,
banyak peristiwa mendunia yang terjadi di dalam atau di luar
negeri, bahkan, seringkali peristiwa-peristiwa menarik terjadi di
sekitar kita.
Agar dapat melaporkan kembali peristiwa dengan baik, kita
perlu mengatur suara. Penggunaan jeda (pemenggalan kata),
intonasi, dan ekspresi yang baik akan membuat cerita menarik
dan dapat diterima orang lain.
Hal lainnya adalah pemahaman alur peristiwa yang
disampaikan. Urutan cerita peristiwa harus dijelaskan secara
akurat, lengkap, dan jelas. Akurat maksudnya informasi yang
dilaporkan harus sesuai dengan yang diperoleh, yaitu
memperhatikan 5W + 1 H maksudnya, yaitu menggunakan
intonasi, jeda, dan pelafalan yang benar.

Bacalah contoh peristiwa berikut!

SIMPATI PENGAMEN DAN GADIS TUNANETRA
Tiga belas pasangan ibu dan putrinya berhasil menyisihkan 2.000 kontestan lain untuk masuk
ke babak final program Reality Show Mama Mia. Di antara para finalis, pasangan Ajeng-Mama
Cindy dan Fiersha-Mama Aci boleh dibilang paling mencuri perhatian.
Latar belakang mereka menjadi alasan. Ajeng-Mama Cindy, sehari-hari merupakan pengamen
bus kota. Sementara itu, Fiersha merupakan gadis tunanetra tetapi memiliki kelebihan luar biasa
pada kemampuan vokal.
Sehari-hari, Ajeng, Mama Cindy, serta ayah Ajeng, Hary, naik bus kota untuk menjajakan
kemampuan bermusik mereka. Sang ayah memetik gitar, sedangkan istri dan putrinya melantunkan
lagu populer milik Peterpan, Radja, hingga Pinkan Mambo. Biasanya, keluarga itu mengamen di
dalam bus kota nomor 47 jurusan Kali Deres – Kampung Rambutan.
Suatu hari, saat tengah mengamen, Ajeng diberi anjuran oleh salah seorang penumpang bus
untuk mendaftarkan diri ke ajang Mama Mia. Ajeng mengaku mendapat banyak dukungan dari
teman-temannya sesama pengamen. Meskipun telah masuk babak final Mama Mia, di luar waktu
latihan dan mengikuti rangkaian acara, Ajeng dan Mama Cindy tetap mengamen.
Sementara itu, Fiersha, meski memiliki kekurangan fisik. Bakat menyanyinya dapat membuat
banyak orang iri. Sejak kecil, dia menyanyi dari panggung ke panggung, termasuk rekaman di
Radio Republik Indonesia (RRI). Sejak dahulu Fiersha paling suka pelajaran kesenian. Dia nggak
pernah minder karena cacat.
Mama Mia merupakan progam yang diadopsi dari Quinceanera di Telemindo, televisi berbahasa
Spanyol di Meksiko. Nilai penjurian yang digunakan sistem vote lock. Ada seratus juri yang
memberikan suara. Hasilnya digabung dengan penilaian empat dewan juri utama, yakni Sophia
Latjuba, Arzetti Bilbina, Helmy Yahya, dan Ahmad Dhani. Setiap minggunya, akan ada pasangan
ibu dan anak yang tereliminasi. Putaran pertama dimulai tadi malam.
Sumber: Solo Pos, 2 September 2007 (dengan perubahan)

Latihan 3.3

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut secara lisan!
1. Peristiwa apa yang terjadi dalam bacaan di atas?
2. Siapa yang diceritakan dalam teks di atas?
3. Apa latar belakang kehidupan Ajeng-Mama Cindy?
4. Di mana keluarga Ajeng bekerja?
5. Siapa gadis tunanetra yang ikut acara Reality Show?
6. Di mana gadis tunanetra tersebut pernah rekaman?
7. Diadopsi dari acara apa program Mama Mia?
8. Siapa artis yang menjadi juri acara Mama Mia?
9. Sistem apa yang digunakan untuk penilaian juri?
10. Berapa jumlah peserta dalam program Mama Mia?

Latihan 3.4

Berdasarkan bacaan dan hasil jawabanmu dari Latihan 1, laporkan secara lisan tentang gadis
pengamen dan gadis tunanetra yang ikut Mama Mia!

TUGAS MANDIRI

Carilah sebuah peristiwa di surat kabar atau majalah, kemudian deskripsikan peristiwa
tersebut secara terperinci dengan bahasa yang baik dan benar. Laporkan peristiwa secara
lisan dengan menggunakan kalimat yang jelas!

Posted Juni 22, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Bab III: 1. Menyunting Karangan   Leave a comment

Tak Ada Sempurna

 

KOMPETENSI DASAR: Menyunting Karangan dengan berpedoman EYD, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf,
dan kebulatan wacana

MATERI : Menyunting

RINGKASAN

Menyunting atau mengedit adalah memperbaiki tulisan atau naskah
karangan agar terhindar dari kesalahan sehingga layak baca atau layak terbit.
Hal-hal yang perlu disunting adalah kesalahan ejaan, tanda baca, diksi
(pilihan kata), ketidakefektifan kalimat, dan ketidakpaduan paragraf.
Untuk dapat menyunting tulisan atau naskah dengan baik, diperlukan
pengetahuan tentang kebahasaan dan pengetahuan tentang isi tulisan. Kita
harus mengetahui ejaan, tanda baca, pilihan kata, keefektifan kalimat, dan
ketepatan paragraf sehingga akan memperoleh suntingan yang baik.
Orang yang bertugas menyunting tulisan atau naskah disebut editor
atau penyunting. Biasanya, secara profesional, para penyunting bekerja di
usaha penerbitan, percetakan buku, majalah, atau surat kabar.
Bacalah teks bacaan berikut dengan teliti!

CONTOH MENYUNTING:

SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA AMBURADUL
Sekarang ini untuk masuk sekolah dasar (SD), pihak sekolah mewajibkan anak-anak sudah
harus dapat membaca dan menulis. Di sini kita berbicara tentang SD Negeri yang notabene 100%
mengikuti sistem pendidikan dari pemerintah. Setahu saya, membaca dan menulis baru diajarkan
di tingkat sekolah dasar.
Hal yang menyedihkan bagi para orang tua adalah kenyataan bahwa di taman kanak-kanak
(TK) tidak diajarkan membaca dan menulis. Bahkan, di TK Negeri Percontohan di Jakarta pun
tidak diajarkan membaca dan menulis sehingga para orangtua seperti saya harus mencari les
tambahan bagi anak untuk dapat sekadar lolos masuk ke SD.
Kesimpulannya, antara TK dan SD tidak nyambung. Pemerintah sepertinya ingin mengejar
ketertinggalan SDM Indonesia dari negara lain dengan cara instan. Kegagalan sistem pendidikan
kita selama ini harus dibayar oleh anak-anak SD dengan melupakan pelajaran dasar yang mudah
dan menggantinya dengan pelajaran yang sulit untuk usianya. Sistem pendidikan di Indonesia
amburadul. Bagaimana ini Departemen Pendidikan Nasional? RIZKY YALDI
Sumber: Kompas, 26 Agustus 2007

a. Menyunting penulisan ejaan
Contoh:
Dia duduk di antara saya dan Melani. salah
Dia duduk di antara saya dan Melani benar

b. Menyunting tanda baca
Contoh:

Bagaimana ini Departemen Pendidikan Nasional. (salah)
Bagaimana ini Departemen Pendidikan Nasional? (benar)

c. Menyunting diksi atau pilihan kata
Contoh: sistim (tidak baku) sistem (baku) nyambung (tidak baku) menyambung atau berhubungan (baku)

 
d. Menyunting keefektifan kalimat
Contoh :
– Di sini kita ini berbicara tentang SD Negeri yang notabene 100% mengikuti sistem pendidikan dari pemerintah.
– Kita berbicara tentang SD negeri yang notabene 100% mengikuti sistem pendidikan dari pemerintah.

Latihan 3.1

Suntinglah paragraf di bawah ini sehingga menjadi paragraf yang benar!
1. Apabila kita masuk ke dalam ruangan UKS ini, kesan pertama yang terasa adalah perabotan
yang ada di dalam ruangan dan dekorasi ruanganya. Semua ini tentu adalah merupakan salah
satu unsur mengapa UKS ini menjadi juara pertama dan ditetapkan sebagai UKS teladan se-
Daerah Istimewa Yogjakarta tahun ini.
2. Untuk mempermudahkan membeli obat, sebaiknya kita pergi ke apotik. Biasanya kita membawa
resep yang telah diberikan dari dokter. Resep itu akan mempermudahkan pihak apotik di dalam
mencari jenis dan bahan obat yang sesuai. Perlu diketahui bahwa resep dokter yang dibuat
oleh dokter nggak dapat diubah, kecuali ada persetujuan daripada dokter. Oleh karena itulah,
pasien dan pihak apotik tidak boleh mengganti jenis obat dengan seenaknya.

Posted Juni 22, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Menentukan Tema Kumpulan Cerpen   Leave a comment

KOMPENTENSI DASAR: Siswa dapat menentukan tema, latar, dan penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen

MATERI : Buku Antologi Cerpen

 

 

RINGKASAN

Pada Pelajaran 1 kamu telah mengikuti kegiatan menceritakan kembali
isi cerpen. Tentunya, kamu telah banyak membaca cerpen. Kamu akan
dapat memperoleh cerpen dari kumpulan cerpen. Cerpen yang dimuat
dapat berasal dari satu pengarang dan juga dapat merupakan karya dari
beberapa pengarang. Setiap pengarang pada umumnya memiliki kekhasan
gaya bercerita yang membedakan dengan pengarang yang lain, misalnya
dalam memilih tema, melukiskan penokohan, menampilkan latar,
penggunaan gaya bahasa, dan mengungkapkan amanat.
Bacalah dengan cermat cerpen dalam kumpulan cerpen Rindu Ladang
Padang Ilalang karya M. Fuadi Zaini berikut ini!

 

1. Cerpen ”Warisan”
  WARISAN
Barham betul. Ia punya hak atas sebagian harta yang cukup banyak itu.
Kira-kira empat sampai lima miliar rupiah.
“Lumayan kan, Mas?” katanya padaku.
“Bukan lumayan lagi,” kataku. “Untuk ukuran saya, itu sudah luar biasa.
Maklum, saya kan tidak kaya seperti Anda.”
Ia tertawa, mungkin senang dan bercampur bangga. Aku pun tersenyum.
“Tapi masalahnya tak semudah yang kita kira,” katanya kemudian agak
kendor.
“Kenapa?”
“Begini. Ternyata kakak saya itu bangsat juga, bahkan bangsat besar.
Harta itu ia kuasai sendiri. Ia tidak mau membaginya menurut hukum waris.
Dan saya hanya dijatahnya tiap bulan tak lebih dari delapan ratus ribu. Adik
perempuan saya lebih sedikit lagi.”
“Lumayan juga .”
“Lumayan bagaimana? Apa artinya uang segitu dibanding dengan
keuntungan yang ia peroleh tiap bulan dari harta yang belasan miliar itu? Tiap
bulan ia dapat puluhan atau mungkin ratusan juta.”
“Lalu?”
“Ya, tak ada lalunya. Sampai sekarang pun saya sudah kawin dan punya
dua orang anak, saya masih juga dijatah segitu.”
Aku tak habis mengerti. Bagaimana seorang kakak memperlakukan adikadiknya
demikian. Begitu tega ia menguasai sendiri harta warisan dari
ayahnya. Adik-adiknya hanya dijatahnya dengan jumlah yang tidak begitu
banyak.
* * *
Barham betul. Ia punya hak penuh atas harta bagian warisannya itu. Dapat
dimengerti kalau ia sampai begitu jengkel dan marah. Semua itu ia lampiaskan
di hadapanku.
“Bahkan ibu saya, ibunya sendiri ia jatahi juga seperti seorang anak kecil.”
“Terlalu, “ kataku.
“Terlalu sekali,” sambungnya. “Kalau sedikit saja ia punya rasa
perikemanusiaan, ia tak akan berbuat begitu. Tak usahlah kita bicara tentang
rasa keagamaan atau iman atau yang semacamnya. Saya kira ia sudah buta
tentang itu.”
Sekali lagi Barham memang betul. Ia melampiaskan semua itu di
hadapanku. Tetapi, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak punya
kekuasaan yang bisa memaksa kakaknya itu. Aku hanya salah seorang teman
dekatnya. Walau kami pernah belajar di luar negeri dulu, Barhan memang
pernah tinggal satu flat denganku. Ia seorang yang baik dan cukup cerdas.
Hanya saja ia agak penggugup dan penakut. Kabarnya karena ayahnya amat
keras kepada anak-anaknya, termasuk Barham. Mungkin jiwa Barham tidak
begitu kuat menghadapi guncangan-guncangan itu. Hal itu tampak jelas dalam
gerak-gerik dan perilaku Barham sehari-hari.
* * *

Contoh-contoh dapat banyak kita temukan. Kalau Barham, misalnya,
kusuruh cepat-cepat mendaftar masuk universitas, dengan serta-merta ia
menolak dengan berbagai macam alasan.
“Nanti, tahun berikutnya saja, Mas,” katanya padaku.
“Kenapa?” tanyaku
“Saya harus memperkuat bahasa dulu.”
“Saya kira sekarang sudah cukup. Dan itu dapat terus diperbaiki dan
disempurnakan sambil jalan.”
“Wah, itu yang saya tidak sanggup.”
“Kenapa tidak?”
“Ya, begitulah. Lebih baik saya tangguhkan dulu.”
“Teman-teman dari Eropa, Jepang, dan Afrika, bahasa mereka sudah
cukup baik dengan hanya belajar rajin dalam waktu beberapa bulan saja.
Kenapa kita harus menghabiskan setahun lebih hanya untuk itu?”
Namun ia tetap tidak mau. Sebenarnya, ia hanya kurang berani. Tatkala
sudah masuk universitas pada tahun berikutnya, kuliahnya juga agak tersendatsendat.
Dekat-dekat waktu ujian, ia sudah sakit. Sakitnya macam-macam.
Saya kira sebenarnya hanyalah karena faktor psikologis. Ia takut menghadapi
ujian-ujian itu dan agaknya ia dapat pelarian yang cukup aman dengan jalan
sakit itu.
* * *
Tatkala suatu kali, ia dapat telegram bahwa ayahnya meninggal, langsung
ia mau ambil keputusan pulang.
“Tapi kembali lagi kan?” tanyaku serius.
“Tidak, Mas,” katanya. “Saya tak akan kembali lagi.”
“Lantas studimu ditinggalkan?”
“Ya, apa boleh buat.”
“Kan sayang sekali, setahun lagi Anda dapat tamat.”
“Tak apalah. Saya harus pulang dan membereskan harta warisan dari
ayah saya. Ayah saya meninggalkan warisan yang cukup banyak.”
* * *
Memang sayang sekali ia tidak melanjutkan studinya. Namun, aku tidak
dapat memaksanya. Aku hanya seorang teman dekatnya. Kami pun berpisah.
Cukup lama juga kami berjauhan satu sama lain. Manalagi ia jarang sekali
menulis surat. Namun sayup-sayup, aku masih dengar juga berita tentangnya
dari teman-teman yang lain.
Waktu aku pulang, ia cukup sering datang ke rumahku. Tak lain yang
dilampiaskannya hanyalah soal harta warisan itu. Tampaknya penyakit gugup
dan takutnya sudah agak banyak berkurang sekarang. Ia sudah kawin dan
punya anak dua yang mungil-mungil.
“Lantas bagaimana rencana Anda menghadapi soal warisan itu
sekarang?” tanyaku dengan nada mau ikut cari jalan keluar.
Ia diam beberapa saat, seperti sedang berpikir berat dan kemudian mau
mengatakan sesuatu, tapi tampaknya ragu-ragu.
“Katakan saja kalau ada sesuatu yang mau dikatakan,” kataku lagi.
“Sebetulnya, saya sudah punya rencana yang sudah lama saya pikirkan.
Saya sudah nekat mau melaksanakan hal itu. Hanya saja saya ragu-ragu
mengatakannya kepada Mas, mungkin Mas tak akan setuju.”
“Apa itu?”

“Saya mau santet kakak saya itu.”
“Membunuhnya?”
“Tak ada jalan lain, saya kira.”
“Kan begitu itu tidak boleh dalam agama?”
“Dan yang ia perbuat, apa termasuk dibolehkan?”
Aku mencoba mendinginkannya. Kukatakan, tujuan baik harus dilakukan
dengan cara yang baik pula. Kalau ada orang gila, kita tak usaha ikut-ikut gila,
kataku. Ia masih tetap ngotot. Lantas ia bercerita. Bahwa sebelum itu, ia telah
berusaha menempuh jalan baik dan damai. Seorang ustad ia minta untuk
menasihati kakaknya agar mau membagi harta warisan itu. Kabarnya, menurut
ustad itu, kakaknya sudah punya itikad baik untuk melaksanakannya. Namun,
setelah sekian lama ia tunggu-tunggu, tak suatu apa pun terjadi. Kembali ia
memanggil ustad itu untuk menasihati lagi kakaknya. “Insya Allah berhasil,”
kata ustad. Namun, yang diharapkan tak pernah juga terjadi.
“Ustad itu hanya mengeruk duit saja,” umpatnya padaku.
“Berapa yang ia ambil?”
“Lima ratus ribu. Itu tarif dia dan tak dapat ditawar-tawar. Harus bayar di
depan lagi.”
“Ia yang menentukan?”
“Siapa lagi? Ustad apa namanya kalau begitu, Mas?”
“Mungkin ustad calo duit.”
“Bahkan akhirnya ia bicara kecil begitu: kalau saya bersedia memberinya
satu miliar dari bagian warisan yang akan saya terima, ia bersedia
mengurusnya sampai tuntas. Hebat nggak? Saya pura-pura nggak ngerti saja.”
Cukup prihatin juga melihatnya. Ia tunjukkan kepadaku daftar kekayaan
warisan ayahnya itu. Sejumlah toko besar yang terletak di sebelah jalan utama.
Sejumlah rumah mewah dengan segala macam perabotnya. Semua itu
disewakan atau dikontrakkan. Sejumlah sawah dan perkebunan kopi, kapal
laut pengangkut barang dan orang, dan masih banyak lagi. Kagum juga aku
dibuatnya. betapa kayanya sang ayah, ini menurut ukuranku, sampai
mempunyai harta yang beraneka ragam itu. namun setelah kematiannya, anakanaknya
jadi bersengketa.
“Begini saja,” kataku seperti menemukan sesuatu.
“Bagaimana kalau dituntut saja melalui pengadilan?”
Ia tiba-tiba saja tertawa.
“Pengadilan?” katanya dengan nada sinis.
“Ya, kenapa?”
“Sudah juga, Mas. dan menemui kegagalan dan jalan buntu. sebab semua
oknum yang berkaitan dengan pengadilan itu sudah tersumpal semua mata
dan mulut mereka dengan hanya beberapa juta untuk masing-masing. Kakak
saya sudah menyogok mereka semua, hingga semua berpihak kepadanya.
Malah saya yang lantas sesudah itu mau disalahkan dan diuber-uber. Hampir
saja saya kewalahan dalam hal ini. Bayangkan, saya yang tak bersalah malah
diuber-uber terus.”
“Lalu?”
“Ya terpaksa juga saya sumpal polisi yang selalu nguber saya itu, walau
tidak dengan jutaan, apa boleh buat.”“Jadi, saling main sumpal dari sana dan sini,” kataku sambil tersenyum.
“Yang enak yang di tengah-tengah, yang menerima sumpal itu.”
“Dunia sudah benar-benar sinting. Enak dulu waktu masih jadi mahasiswa
di luar negeri kan? Tiap harinya hanya pergi kuliah, dan tiap bulan terima
beasiswa. Beres, tanpa memikirkan masalah-masalah yang jungkir balik dan
absurd.”
* * *
Lalu diceritakannya padaku tentang kegiatan kakaknya belakangan ini. ia
baru saja selesai bikin sebuah masjid yang cukup besar, tak jauh di seberang
jalan di depan rumahnya. Juga tiap tahun ia pergi naik haji bersama seluruh
keluarganya. Tiap hari kopiah hajinya tak pernah lepas dari kepalanya. Dan
sebuah tasbih cukup besar dan panjang selalu dibawanya ke mana-mana.
“Yang begitu itu toh hanya ngibuli agama dan orang awam saja kan? Kalau
ia betul-betul ikhlas menjalankan agama, kan ia harus baik terhadap
sesamanya dan terutama sekali terhadap adik-adiknya. Dan harus
melaksanakan hukum waris yang sudah ditentukan juga oleh agama kan?
tapi ia menjalankan semua itu hanya untuk kedok belaka. Sementara batinnya
penuh keserakahan dan kebusukan.”
“Tapi Tuhan kan tak dapat ditipu?”
“Betul. Tapi Tuhan juga belum mau menolong saya, walau saya dalam
keadaan teraniaya. Hampir tiap hari saya salat tahajud, minta agar harta bagian
warisan saya itu benar-benar saya miliki. tapi hasilnya nol belaka.”
“Hm, Anda ternyata juga kurang ikhlas. Salat dan yang semacamnya itu
memang bagian tugas kita, bukan untuk minta-minta harta. Minta saja
keselamatan dunia dan akhirat dengan penuh tulus dan ikhlas, itu sudah
mencakup semuanya. Dan jangan melupakan usaha nyata tentunya. Itulah
kewajiban kita.”
Ia masih tampak sebal juga. Dan tak habis-habisnya mengomeli kakaknya
dan dunia sekelilingnya yang sudah ia anggap sinting dan gila itu. Ia pulang.
Sebelum keluar pagar halaman, sempat kukatakan padanya agar ia
melupakan saja rencananya untuk menyantet kakaknya itu. Ia hanya diam
dan tak memberikan komentar. Lama ia tidak muncul lagi ke rumah. Ada
barangkali lima minggu. padahal biasanya paling tidak seminggu sekali ia
datang. Aku juga tidak begitu mempedulikannya.
Sampai suatu pagi tiba-tiba ia datang seperti terburu-buru dan terengahengah.
“Celaka Mas, celaka besar!”
“Ada apa?” tanyaku.
“Kakak saya.”
“Ya, kenapa?”
“Tadi malam tiba-tiba ia datang ke rumah saya dengan keluarganya.
Katanya, belakangan ini ia selalu kedatangan ayah kami dalam mimpi dan
selalu dimarah-marahi. ia mulai jadi takut dan mulai jadi sadar.”
“Berita gembira?”
Ia mengangguk kecil, tapi wajahnya kelihatan hambar dan malah sedih.
“Kalau begitu, senyum dong. kan itu bukan sesuatu yang celaka.”
“Tapi, tapi benar-benar celaka!”
“Apanya? Kan tak lama lagi Anda akan jadi seorang konglomerat!”“Ya, tapi …”
“Tak usah susah dengan harta yang cukup banyak itu. kalau diperlukan,
saya bersedia jadi sekretaris anda. kan dapat juga kecipratan!”
“Bukan itu, Mas.”
“Tak usahlah. kita bergembira saja, bersyukur kepada Tuhan yang telah
memberikan petunjuk kepada kakak Anda, hingga terbuka hatinya ke jalan
yang benar.”
“Ya, tapi …, tapi saya telah melakukannya.”
“Melakukan apa?”
“Saya … telah suruh santet kakak saya semalam sebelum ia datang ke
rumah. Saya tidak tahu.”
“Apa?” aku terbelalak seketika.
Tidak tahu aku apa yang mesti kulakukan. Aku hanya terhenyak lemas di
atas kursi. Dalam benakku, aku hanya berdoa mudah-mudahan santetnya itu
tidak mempan atau tidak mandi. itu saja.

2. Cerpen “Dendang Sepanjang Pematang” karya M.Arman AZ

Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang. Ohoi, pohon randu, inilah dia si anak hilang. Lama sudah dia tak pulang. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang. Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Sekian tahun silam, menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau, aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Tak ada lagi ukiran nama kami.

Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Kuhela napas haru. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru.

Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang, kusaksikan pagi menggeliat lagi. Ufuk timur perlahan benderang. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto, guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat, sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya?

Kemarin siang, di tengah raung mesin pabrik, ponsel tuaku bergetar. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Aku kaget mendengar suara Ayub. Dia salah seorang sahabatku di kampung. “Pak Narto wafat!” jeritnya dari seberang sana. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa, Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain. Kutimang ponsel dengan gamang. Kenangan kampung halaman begitu menyentak.

***

Aku tertegun menatap rumah Ayub. Dindingnya dari papan. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Tanaman hias memagari rumahnya. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. Sedap dipandang mata. Di depan rumah ada bale-bale bambu. Ruas-ruasnya sudah renggang. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. Terdengar sahutan, langkah tergopoh, dan derit pintu yang dikuak.

“Man?!” Dia terperangah. Aku tersenyum. Sudah lama kami tak bersua. Detik itu juga, waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan.

“Baru datang? Wah, pangling aku. Gemuk kau sekarang. Sudah jadi orang rupanya. Ah, sampai lupa aku. Ayo masuk.” Runtun kalimatnya. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. Ayub memanggil istrinya. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi.

Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Diam-diam kucermati sosoknya. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. Tubuhnya kekar. Kulitnya legam. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Ketika senyum atau bicara, gigi putihnya berderet rapi. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini.

Dari semua nama yang terpahat di batang randu, cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota, ke pulau seberang, bahkan ke negeri orang. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. Katanya, meski sempat diserang hama wereng, panen dua bulan lalu cukup lumayan. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan.

Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Tawaran itu menohok batinku. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat, aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Kami ingin merantau. Mencari nasib yang lebih baik. Setelah hasil penjualan dibagi rata, kami pun berpencar ke penjuru mata angin.

Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. Lingkungannya kumuh, dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Kami sudah biasa antre mandi, buang hajat, atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng.

Ayub terpana mendengar ceritaku. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela, “Jangankan mengalaminya, membayangkannya saja aku tak sanggup.”

Menepis risau, kuraih gagang gelas. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Ah, kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Sambil menyulut rokok, Ayub berkata, “Kenapa tak pulang saja, Man? Beli sawah. Bertani. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu.”
Aku tercekat. Sekian lama di rantau, sekian jauh berjarak dengan kampung halaman, tak pernah terbersit di benakku untuk pulang.

***

Sepanjang jalan menuju rumah duka, kami kenang kawan-kawan lama. Maryamah, gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya, kini jadi biduan orkes dangdut. Namanya diubah jadi Marta. Kata Ayub, jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Darto, yang paling pintar di kelas kami, jadi tukang becak di kota. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Dia jadi bencong. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. Lantas kuingat Abas. Ayub bilang, dia ketiban bulan. Hidupnya kini makmur. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Abas ditugasi mengurus koperasi. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan, lebih baik bunuh Abas duluan, sebab culasnya melebihi ular. Dan si Ahmad, anak pendiam dan alim itu, sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura.

Ah, waktu telah mengubah segalanya. Kisah teman-teman lama membuatku takjub, heran, campur sedih. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto, kami beringsut keluar dari ruang tamu. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Makin tinggi matahari, makin banyak pelayat datang. Aku termangu menatap rumah duka itu. Ada tarup besar memayungi halaman. Kursi-kursi plastik penuh terisi. Dari bisik-bisik yang kudengar, Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Dia tak bisa datang melayat.

Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Meski tak ada hubungan darah, kami merasa selayaknya saudara. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Merantau jadi pilihan kami, anak-anak muda kala itu.

Sejauh-jauh terbang, warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Begitu juga jika ada yang meninggal, Kami yang di rantau pasti dikabari. Tapi, entah kenapa, sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung, hanya segelintir teman yang kutemui. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam?

***

Hari kedua di kampung. Ayub mengajakku ke sawah. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu, guraunya. Di jalan, kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Ada yang menggoes sepeda. Aku terharu. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol.

Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. Ngebut di jalan tanah berbatu. Meninggalkan debu panjang di depan mataku.

Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana, dekat rimbunan pohon pisang. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu, Ayub mengajakku turun. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan.

Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan.
Lir ilir, lir ilir. Tandure wis semilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar…

Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. Namun, entah kenapa, bibirku terasa kelu.

Dari huma beratap rumbia, kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Batang-batang padi meliuk. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Entah siapa peniupnya. Mendengarnya, aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu.

Kami pulang menjelang petang. Memutari jalan kampung. Meski lebih jauh jaraknya, tapi aku tak keberatan. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Sesampainya di sana, hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Setelah segar kami pulang. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi, tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Aku ingat, Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Bidikannya paling jitu di antara kami. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Menggelepar di semak-semak. Kami mengendap-endap. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu.

Ayub menghardik mereka. Aku terpana. Merasa tertangkap basah, wajah keduanya pucat dan merah padam. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Kami kembali melanjutkan langkah. Wajah Ayub kaku. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi.

***

Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Bintang bertaburan di langit lama. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Aku serasa sedang berada di sorga.
“Kampung kita sudah berubah, Man,” kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang.

“Ya, aku seperti orang asing di sini,” suaraku gamang.
“Semua teman kita pergi merantau. Jadi TKI, babu, atau buruh sepertimu. Tetua kampung meninggal satu-satu. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. Asal kau tahu, apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa…”

Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Aku enggan bertutur lebih banyak. Aku harus tahu diri. Setelah memilih jadi manusia urban, aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini.

***

Izin cuti empat hari telah usai. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti. Aku harus pulang pagi ini. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. Tapi biarlah kutelan dalam hati saja.

Dengan motor tuanya, Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang.

Persis ketika kami lewati pohon randu itu, lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan. Namun sekedar menghibur diri, kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Satu saat nanti, jika ada uang, aku mau pulang. Membeli sawah. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. Makan dari hasil keringat sendiri. Hidup tenteram bersama anak istri.

Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan, cuma bisa tersenyum giris…***

LATIHAN : bandingkan ke dua CERPEN di atas dengan menjawab pertanyaan di bawah ini!

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Apa tema cerpen “Warisan” dan “Dendang Sepanjang Pematang”?

2. Sebutkan nama-nama tokoh yang terlibat!

3. Jelaskan perwatakan masing-masing tokoh!

4. Jelaskan latar (waktu, tempat, dan suasana) peristiwa dalam cerpen “Warisan”!

5. Temukan nilai:             a. nilai kehidupan

b. nilai agama

c. nilai sosial

d. nilai budaya

 

 

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Mendengarkan Syair   Leave a comment

KOMPETENSI DASAR: Siswa  dapat menentukan tema dan pesan yang diperdengarkan

MATERI : Syair

RINGKASAN

Kamu tentu pernah mendengarkan pembacaan syair. Syair merupakan
salah satu jenis puisi lama yang sangat terkenal. Syair berasal dari
kesusastraan Arab, dari kata syu’ur yang artinya perasaan.

Ciri-ciri syair, antara lain sebagai berikut
1. Setiap bait terdiri atas empat baris.
2. Setiap baris terdiri atas 8 sampai 14 suku kata.
3. Semua baris merupakan isi.
4. Syair bersajak aaaa.
5. Setiap bait syair tidak dapat berdiri sendiri.
6. Biasanya, setiap baris terdiri atas empat kata.

Dengarkan pembacaan penggalan syair berikut ini!
Syair Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan,
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka Sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.
Abdul Muluk putra baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.
Parasnya elok amat sempurna,
Petah menjelis bijak laksana,
Memberi hati bimbang gulana,
Kasih kepadanya mulya dan hina.

”Syair Abdul Muluk” menceritakan kisah seorang putra raja Hindustan
yang bernama Abdul Muluk. Dia adalah putra Abdul Hamid Syah. Abdul
Hamid Syah sangat bergembira melihat anaknya sudah cukup dewasa. Pada
saat mencapai usia tiga belas tahun, ia tampak sudah sangat dewasa. Selain
pemikirannya yang cemerlang, parasnya yang tampan, ia juga sangat bijak
dalam menghadapi banyak persoalan sehingga banyak orang yang
mengagumi dan menyukainya.
Tema ”Syair Abdul Muluk” adalah kisah putra raja yang bijak. Pesan
atau amanatnya adalah hendaklah kita menjadi orang yang bijak dan baik
budi agar dicintai sesama.

LATIHAN 1

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Siapakah Abdul Muluk?
2. Bagaimanakah sifat Abdul Muluk?
3. Di manakah keberadaan Abdul Hamid Syah?
4. Tuliskan makna kata di bawah ini
baginda        : ……………….
bangsawan  : ……………….
menjelis       : ……………….
paras             : ……………….
petah             : ……………….
5. Tulislah kembali isi syair Abdul Muluk dengan bahasa sendiri!

LATIHAN 2

Bacalah penggalan syair di bawah ini!
Inilah gerangan suatu madah,
mengarangkan syair terlalu indah,
membutuhi jalan tempat berpindah,
di sanalah iktikad diperbetuli sudah.
Wahai muda, kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat juga kekal diammu
1. Tuliskan makna kata-kata di bawah ini!
Gerangan : …………….
Madah : …………….
Iktikad : …………….
Tamsil : …………….
Kekal : …………….
2. Tentukan tema syair di atas!
3. Tentukan amanat atau pesan syair di atas!
4. Jelaskan isi syair di atas dengan menggunakan bahasamu sendiri

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Memuji dan Mengkritik Karya   Leave a comment

Kompetensi Dasar: Siswa  dapat mengkritik/memuji karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun

MATERI: Memuji dan mengkritik

RINGKASAN

Karya seni adalah ciptaan yang dapat menimbulkan rasa indah bagi
orang yang melihat, mendengar, atau merasakannya. Karya seni memang
indah untuk dinikmati. Karya seni tidak hanya terbatas pada karya sastra,
tetapi juga seni yang lain, seperti seni lukis, seni musik, dan seni ukir. Kamu
tentu pernah melihat salah satu produk seni tersebut.
Secara sadar atau tidak, ketika melihat suatu produk seni, misalnya
lukisan, kamu akan melakukan penilaian meskipun sekadar mengatakan
“Wah, lukisannya bagus” atau ”lukisannya kurang bagus”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah kecaman atau
tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk
terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Kritik yang baik
adalah apabila disampaikan dengan kalimat yang tepat dan santun serta
bersifat membangun. Oleh karena itu, kita harus dapat memilih kata yang
tepat sehingga tidak menyinggung perasaan. Kritik bersifat membangun
adalah kritik yang dapat membantu untuk berkarya lebih baik atau menjadi
lebih baik lagi setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan hasil karyanya.
Pujian merupakan pernyataan atau perkataan yang tulus akan kebaikan,
kelebihan, atau keunggulan suatu hasil karya. Pada pembelajaran ini kamu
akan berlatih untuk menyampaikan kritik dan pujian terhadap suatu karya.
Sampaikan kritik dan pujian itu dengan wajar, dan tepat serta menggunakan
bahasa yang lugas dan santun.
Perhatikan karya seni di bawah ini.

Pemandangan di sekitar Gn.Agung Bali

LATIHAN

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Jelaskan lukisan tersebut dengan bahasamu!
2. Berikan tanggapan terhadap lukisan tersebut! Sukakah kamu terhadap lukisan tersebut!
3. Berikan dua kalimat yang berisi pujian terhadap lukisan tersebut!
4. Berikan dua kalimat yang berisi kritik terhadap lukisan tersebut!
5. Mengapa memuji atau mengkritik harus menggunakan bahasa yang lugas dan santun?

Bacalah sajak berikut!

Sajak Sutarmanto
Ketika TuhanTertawa
Ranting-ranting subuh tegak ternganga
perjalanan menyusur legam kembara
mengoyak harap, hilang kisaran
segala yang ditumbuhkan malam
terbabat elang-elang
pada belantara tak bernama
lelaki tua menenteng tangan dan kakinya
bertanya lagi tentang diri sendiri
daun-daun luruh
dibangkitkannya, direnda ukiran di lusuh baju
saksikan orang-orang pulang
tanpa kenangan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Berikan dua kalimat yang berisi kritik terhadap puisi tersebut!
2. Berikan dua kalimat yang berisi pujian teradap puisi tersebut!
3. Sampaikan kritik dan pujian yang sudah kamu tulis tersebut secara lisan di depan kelas!

TUGAS MANDIRI

1. Carilah sebuah puisi atau karya yang lain di surat kabar atau majalah!
2. Berikan pujian dan kritik terhadap karya tersebut dengan bahasa yang lugas dan santun!

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.