Archive for the ‘MATERI KELAS 9’ Category

Menentukan Tema Kumpulan Cerpen   Leave a comment

KOMPENTENSI DASAR: Siswa dapat menentukan tema, latar, dan penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen

MATERI : Buku Antologi Cerpen

 

 

RINGKASAN

Pada Pelajaran 1 kamu telah mengikuti kegiatan menceritakan kembali
isi cerpen. Tentunya, kamu telah banyak membaca cerpen. Kamu akan
dapat memperoleh cerpen dari kumpulan cerpen. Cerpen yang dimuat
dapat berasal dari satu pengarang dan juga dapat merupakan karya dari
beberapa pengarang. Setiap pengarang pada umumnya memiliki kekhasan
gaya bercerita yang membedakan dengan pengarang yang lain, misalnya
dalam memilih tema, melukiskan penokohan, menampilkan latar,
penggunaan gaya bahasa, dan mengungkapkan amanat.
Bacalah dengan cermat cerpen dalam kumpulan cerpen Rindu Ladang
Padang Ilalang karya M. Fuadi Zaini berikut ini!

 

1. Cerpen ”Warisan”
  WARISAN
Barham betul. Ia punya hak atas sebagian harta yang cukup banyak itu.
Kira-kira empat sampai lima miliar rupiah.
“Lumayan kan, Mas?” katanya padaku.
“Bukan lumayan lagi,” kataku. “Untuk ukuran saya, itu sudah luar biasa.
Maklum, saya kan tidak kaya seperti Anda.”
Ia tertawa, mungkin senang dan bercampur bangga. Aku pun tersenyum.
“Tapi masalahnya tak semudah yang kita kira,” katanya kemudian agak
kendor.
“Kenapa?”
“Begini. Ternyata kakak saya itu bangsat juga, bahkan bangsat besar.
Harta itu ia kuasai sendiri. Ia tidak mau membaginya menurut hukum waris.
Dan saya hanya dijatahnya tiap bulan tak lebih dari delapan ratus ribu. Adik
perempuan saya lebih sedikit lagi.”
“Lumayan juga .”
“Lumayan bagaimana? Apa artinya uang segitu dibanding dengan
keuntungan yang ia peroleh tiap bulan dari harta yang belasan miliar itu? Tiap
bulan ia dapat puluhan atau mungkin ratusan juta.”
“Lalu?”
“Ya, tak ada lalunya. Sampai sekarang pun saya sudah kawin dan punya
dua orang anak, saya masih juga dijatah segitu.”
Aku tak habis mengerti. Bagaimana seorang kakak memperlakukan adikadiknya
demikian. Begitu tega ia menguasai sendiri harta warisan dari
ayahnya. Adik-adiknya hanya dijatahnya dengan jumlah yang tidak begitu
banyak.
* * *
Barham betul. Ia punya hak penuh atas harta bagian warisannya itu. Dapat
dimengerti kalau ia sampai begitu jengkel dan marah. Semua itu ia lampiaskan
di hadapanku.
“Bahkan ibu saya, ibunya sendiri ia jatahi juga seperti seorang anak kecil.”
“Terlalu, “ kataku.
“Terlalu sekali,” sambungnya. “Kalau sedikit saja ia punya rasa
perikemanusiaan, ia tak akan berbuat begitu. Tak usahlah kita bicara tentang
rasa keagamaan atau iman atau yang semacamnya. Saya kira ia sudah buta
tentang itu.”
Sekali lagi Barham memang betul. Ia melampiaskan semua itu di
hadapanku. Tetapi, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak punya
kekuasaan yang bisa memaksa kakaknya itu. Aku hanya salah seorang teman
dekatnya. Walau kami pernah belajar di luar negeri dulu, Barhan memang
pernah tinggal satu flat denganku. Ia seorang yang baik dan cukup cerdas.
Hanya saja ia agak penggugup dan penakut. Kabarnya karena ayahnya amat
keras kepada anak-anaknya, termasuk Barham. Mungkin jiwa Barham tidak
begitu kuat menghadapi guncangan-guncangan itu. Hal itu tampak jelas dalam
gerak-gerik dan perilaku Barham sehari-hari.
* * *

Contoh-contoh dapat banyak kita temukan. Kalau Barham, misalnya,
kusuruh cepat-cepat mendaftar masuk universitas, dengan serta-merta ia
menolak dengan berbagai macam alasan.
“Nanti, tahun berikutnya saja, Mas,” katanya padaku.
“Kenapa?” tanyaku
“Saya harus memperkuat bahasa dulu.”
“Saya kira sekarang sudah cukup. Dan itu dapat terus diperbaiki dan
disempurnakan sambil jalan.”
“Wah, itu yang saya tidak sanggup.”
“Kenapa tidak?”
“Ya, begitulah. Lebih baik saya tangguhkan dulu.”
“Teman-teman dari Eropa, Jepang, dan Afrika, bahasa mereka sudah
cukup baik dengan hanya belajar rajin dalam waktu beberapa bulan saja.
Kenapa kita harus menghabiskan setahun lebih hanya untuk itu?”
Namun ia tetap tidak mau. Sebenarnya, ia hanya kurang berani. Tatkala
sudah masuk universitas pada tahun berikutnya, kuliahnya juga agak tersendatsendat.
Dekat-dekat waktu ujian, ia sudah sakit. Sakitnya macam-macam.
Saya kira sebenarnya hanyalah karena faktor psikologis. Ia takut menghadapi
ujian-ujian itu dan agaknya ia dapat pelarian yang cukup aman dengan jalan
sakit itu.
* * *
Tatkala suatu kali, ia dapat telegram bahwa ayahnya meninggal, langsung
ia mau ambil keputusan pulang.
“Tapi kembali lagi kan?” tanyaku serius.
“Tidak, Mas,” katanya. “Saya tak akan kembali lagi.”
“Lantas studimu ditinggalkan?”
“Ya, apa boleh buat.”
“Kan sayang sekali, setahun lagi Anda dapat tamat.”
“Tak apalah. Saya harus pulang dan membereskan harta warisan dari
ayah saya. Ayah saya meninggalkan warisan yang cukup banyak.”
* * *
Memang sayang sekali ia tidak melanjutkan studinya. Namun, aku tidak
dapat memaksanya. Aku hanya seorang teman dekatnya. Kami pun berpisah.
Cukup lama juga kami berjauhan satu sama lain. Manalagi ia jarang sekali
menulis surat. Namun sayup-sayup, aku masih dengar juga berita tentangnya
dari teman-teman yang lain.
Waktu aku pulang, ia cukup sering datang ke rumahku. Tak lain yang
dilampiaskannya hanyalah soal harta warisan itu. Tampaknya penyakit gugup
dan takutnya sudah agak banyak berkurang sekarang. Ia sudah kawin dan
punya anak dua yang mungil-mungil.
“Lantas bagaimana rencana Anda menghadapi soal warisan itu
sekarang?” tanyaku dengan nada mau ikut cari jalan keluar.
Ia diam beberapa saat, seperti sedang berpikir berat dan kemudian mau
mengatakan sesuatu, tapi tampaknya ragu-ragu.
“Katakan saja kalau ada sesuatu yang mau dikatakan,” kataku lagi.
“Sebetulnya, saya sudah punya rencana yang sudah lama saya pikirkan.
Saya sudah nekat mau melaksanakan hal itu. Hanya saja saya ragu-ragu
mengatakannya kepada Mas, mungkin Mas tak akan setuju.”
“Apa itu?”

“Saya mau santet kakak saya itu.”
“Membunuhnya?”
“Tak ada jalan lain, saya kira.”
“Kan begitu itu tidak boleh dalam agama?”
“Dan yang ia perbuat, apa termasuk dibolehkan?”
Aku mencoba mendinginkannya. Kukatakan, tujuan baik harus dilakukan
dengan cara yang baik pula. Kalau ada orang gila, kita tak usaha ikut-ikut gila,
kataku. Ia masih tetap ngotot. Lantas ia bercerita. Bahwa sebelum itu, ia telah
berusaha menempuh jalan baik dan damai. Seorang ustad ia minta untuk
menasihati kakaknya agar mau membagi harta warisan itu. Kabarnya, menurut
ustad itu, kakaknya sudah punya itikad baik untuk melaksanakannya. Namun,
setelah sekian lama ia tunggu-tunggu, tak suatu apa pun terjadi. Kembali ia
memanggil ustad itu untuk menasihati lagi kakaknya. “Insya Allah berhasil,”
kata ustad. Namun, yang diharapkan tak pernah juga terjadi.
“Ustad itu hanya mengeruk duit saja,” umpatnya padaku.
“Berapa yang ia ambil?”
“Lima ratus ribu. Itu tarif dia dan tak dapat ditawar-tawar. Harus bayar di
depan lagi.”
“Ia yang menentukan?”
“Siapa lagi? Ustad apa namanya kalau begitu, Mas?”
“Mungkin ustad calo duit.”
“Bahkan akhirnya ia bicara kecil begitu: kalau saya bersedia memberinya
satu miliar dari bagian warisan yang akan saya terima, ia bersedia
mengurusnya sampai tuntas. Hebat nggak? Saya pura-pura nggak ngerti saja.”
Cukup prihatin juga melihatnya. Ia tunjukkan kepadaku daftar kekayaan
warisan ayahnya itu. Sejumlah toko besar yang terletak di sebelah jalan utama.
Sejumlah rumah mewah dengan segala macam perabotnya. Semua itu
disewakan atau dikontrakkan. Sejumlah sawah dan perkebunan kopi, kapal
laut pengangkut barang dan orang, dan masih banyak lagi. Kagum juga aku
dibuatnya. betapa kayanya sang ayah, ini menurut ukuranku, sampai
mempunyai harta yang beraneka ragam itu. namun setelah kematiannya, anakanaknya
jadi bersengketa.
“Begini saja,” kataku seperti menemukan sesuatu.
“Bagaimana kalau dituntut saja melalui pengadilan?”
Ia tiba-tiba saja tertawa.
“Pengadilan?” katanya dengan nada sinis.
“Ya, kenapa?”
“Sudah juga, Mas. dan menemui kegagalan dan jalan buntu. sebab semua
oknum yang berkaitan dengan pengadilan itu sudah tersumpal semua mata
dan mulut mereka dengan hanya beberapa juta untuk masing-masing. Kakak
saya sudah menyogok mereka semua, hingga semua berpihak kepadanya.
Malah saya yang lantas sesudah itu mau disalahkan dan diuber-uber. Hampir
saja saya kewalahan dalam hal ini. Bayangkan, saya yang tak bersalah malah
diuber-uber terus.”
“Lalu?”
“Ya terpaksa juga saya sumpal polisi yang selalu nguber saya itu, walau
tidak dengan jutaan, apa boleh buat.”“Jadi, saling main sumpal dari sana dan sini,” kataku sambil tersenyum.
“Yang enak yang di tengah-tengah, yang menerima sumpal itu.”
“Dunia sudah benar-benar sinting. Enak dulu waktu masih jadi mahasiswa
di luar negeri kan? Tiap harinya hanya pergi kuliah, dan tiap bulan terima
beasiswa. Beres, tanpa memikirkan masalah-masalah yang jungkir balik dan
absurd.”
* * *
Lalu diceritakannya padaku tentang kegiatan kakaknya belakangan ini. ia
baru saja selesai bikin sebuah masjid yang cukup besar, tak jauh di seberang
jalan di depan rumahnya. Juga tiap tahun ia pergi naik haji bersama seluruh
keluarganya. Tiap hari kopiah hajinya tak pernah lepas dari kepalanya. Dan
sebuah tasbih cukup besar dan panjang selalu dibawanya ke mana-mana.
“Yang begitu itu toh hanya ngibuli agama dan orang awam saja kan? Kalau
ia betul-betul ikhlas menjalankan agama, kan ia harus baik terhadap
sesamanya dan terutama sekali terhadap adik-adiknya. Dan harus
melaksanakan hukum waris yang sudah ditentukan juga oleh agama kan?
tapi ia menjalankan semua itu hanya untuk kedok belaka. Sementara batinnya
penuh keserakahan dan kebusukan.”
“Tapi Tuhan kan tak dapat ditipu?”
“Betul. Tapi Tuhan juga belum mau menolong saya, walau saya dalam
keadaan teraniaya. Hampir tiap hari saya salat tahajud, minta agar harta bagian
warisan saya itu benar-benar saya miliki. tapi hasilnya nol belaka.”
“Hm, Anda ternyata juga kurang ikhlas. Salat dan yang semacamnya itu
memang bagian tugas kita, bukan untuk minta-minta harta. Minta saja
keselamatan dunia dan akhirat dengan penuh tulus dan ikhlas, itu sudah
mencakup semuanya. Dan jangan melupakan usaha nyata tentunya. Itulah
kewajiban kita.”
Ia masih tampak sebal juga. Dan tak habis-habisnya mengomeli kakaknya
dan dunia sekelilingnya yang sudah ia anggap sinting dan gila itu. Ia pulang.
Sebelum keluar pagar halaman, sempat kukatakan padanya agar ia
melupakan saja rencananya untuk menyantet kakaknya itu. Ia hanya diam
dan tak memberikan komentar. Lama ia tidak muncul lagi ke rumah. Ada
barangkali lima minggu. padahal biasanya paling tidak seminggu sekali ia
datang. Aku juga tidak begitu mempedulikannya.
Sampai suatu pagi tiba-tiba ia datang seperti terburu-buru dan terengahengah.
“Celaka Mas, celaka besar!”
“Ada apa?” tanyaku.
“Kakak saya.”
“Ya, kenapa?”
“Tadi malam tiba-tiba ia datang ke rumah saya dengan keluarganya.
Katanya, belakangan ini ia selalu kedatangan ayah kami dalam mimpi dan
selalu dimarah-marahi. ia mulai jadi takut dan mulai jadi sadar.”
“Berita gembira?”
Ia mengangguk kecil, tapi wajahnya kelihatan hambar dan malah sedih.
“Kalau begitu, senyum dong. kan itu bukan sesuatu yang celaka.”
“Tapi, tapi benar-benar celaka!”
“Apanya? Kan tak lama lagi Anda akan jadi seorang konglomerat!”“Ya, tapi …”
“Tak usah susah dengan harta yang cukup banyak itu. kalau diperlukan,
saya bersedia jadi sekretaris anda. kan dapat juga kecipratan!”
“Bukan itu, Mas.”
“Tak usahlah. kita bergembira saja, bersyukur kepada Tuhan yang telah
memberikan petunjuk kepada kakak Anda, hingga terbuka hatinya ke jalan
yang benar.”
“Ya, tapi …, tapi saya telah melakukannya.”
“Melakukan apa?”
“Saya … telah suruh santet kakak saya semalam sebelum ia datang ke
rumah. Saya tidak tahu.”
“Apa?” aku terbelalak seketika.
Tidak tahu aku apa yang mesti kulakukan. Aku hanya terhenyak lemas di
atas kursi. Dalam benakku, aku hanya berdoa mudah-mudahan santetnya itu
tidak mempan atau tidak mandi. itu saja.

2. Cerpen “Dendang Sepanjang Pematang” karya M.Arman AZ

Adalah kenangan yang menghimbauku untuk menengok pohon randu itu. Letaknya menjorok sekitar sepuluh meter di sebelah kiri jalan masuk kampung. Dahan-dahannya seperti masa lalu yang merentangkan tangan. Aku tergoda untuk membelokkan langkah ke sana. Bersijingkat menyibak rimbun ilalang setinggi pinggang. Ohoi, pohon randu, inilah dia si anak hilang. Lama sudah dia tak pulang. Sambut dan peluklah dia sepenuh kenang. Kutelisik sisi belakang batang randu itu. Sekian tahun silam, menggunakan sebilah belati milik kakek yang kupinjam tanpa izin beliau, aku dan beberapa teman bergiliran memahat nama kami di sana. Tak ada lagi ukiran nama kami.

Aku tersenyum kecut menyadari kebodohanku barusan. Bukankah pohon randu terus tumbuh seiring guliran waktu? Kuletakkan pantat di tanah yang lembab. Menyandarkan punggung di kekar batang randu. Kuhela napas haru. Aroma humus dan ilalang mengepung dari segenap penjuru.

Dari pohon yang jadi tapal batas kampung ini dengan kampung seberang, kusaksikan pagi menggeliat lagi. Ufuk timur perlahan benderang. Aku teringat selembar kartu pos bergambar sunrise yang mengintip dari balik punggung gedung-gedung pencakar langit. Seorang teman mengirimnya dari negeri yang jauh. Konon dia sekarang jadi kelasi kapal pesiar. Entah di belahan dunia mana dia kini berada. Masih ingatkah dia pada pohon randu ini? Masih ingatkah dia pada Pak Narto, guru kami dulu? Andai dia tahu beliau telah mangkat, sanggupkah dia lipat jarak dan waktu agar bisa ikut mengantar kepergiannya?

Kemarin siang, di tengah raung mesin pabrik, ponsel tuaku bergetar. Sebuah nomor asing berkedip-kedip gelisah. Aku kaget mendengar suara Ayub. Dia salah seorang sahabatku di kampung. “Pak Narto wafat!” jeritnya dari seberang sana. Sebelum mengakhiri percakapan yang tergesa-gesa, Ayub minta tolong agar kabar duka itu kusampaikan secara berantai ke teman-teman lain. Kutimang ponsel dengan gamang. Kenangan kampung halaman begitu menyentak.

***

Aku tertegun menatap rumah Ayub. Dindingnya dari papan. Di samping kiri ada tumpukan kayu bakar. Tanaman hias memagari rumahnya. Ada kuntum kembang sepatu dan melati baru mekar. Sedap dipandang mata. Di depan rumah ada bale-bale bambu. Ruas-ruasnya sudah renggang. Kuucap salam di depan pintu yang separuh terbuka. Terdengar sahutan, langkah tergopoh, dan derit pintu yang dikuak.

“Man?!” Dia terperangah. Aku tersenyum. Sudah lama kami tak bersua. Detik itu juga, waktu seolah berhenti ketika kami saling berpelukan.

“Baru datang? Wah, pangling aku. Gemuk kau sekarang. Sudah jadi orang rupanya. Ah, sampai lupa aku. Ayo masuk.” Runtun kalimatnya. Dia tepuk-tepuk dan rangkul bahuku. Aku duduk di kursi rotan ruang tamu. Tas kecil kuletakkan di lantai semen. Ayub memanggil istrinya. Dikenalkan padaku seraya minta dibuatkan dua gelas kopi.

Wajah Ayub yang sesegar pagi cepat menghapus letihku. Diam-diam kucermati sosoknya. Ia memakai kaos putih lusuh dan celana panjang hitam. Tubuhnya kekar. Kulitnya legam. Urat-urat lengannya menyembul keluar. Ketika senyum atau bicara, gigi putihnya berderet rapi. Dengan penuh keluguan ia dedahkan hidupnya kini.

Dari semua nama yang terpahat di batang randu, cuma Ayub yang masih setia pada kampung ini. Yang lainnya telah pergi menyabung nasib ke kota, ke pulau seberang, bahkan ke negeri orang. Ayub hidup dari mengurus sawah dan ladang warisan orang tua. Katanya, meski sempat diserang hama wereng, panen dua bulan lalu cukup lumayan. Hasilnya digunakan untuk menyulap tanah kosong di belakang rumah jadi empang. Dia pelihara ikan mas dan gurami untuk menambah penghasilan.

Aku ngilu waktu Ayub menyuruhku menginap di rumahnya. Tawaran itu menohok batinku. Aku tak punya apa-apa lagi di sini. Setengah windu setelah Emak menyusul Abah ke liang lahat, aku dan tiga saudaraku sepakat menjual sawah dan rumah. Kami ingin merantau. Mencari nasib yang lebih baik. Setelah hasil penjualan dibagi rata, kami pun berpencar ke penjuru mata angin.

Bagaimana menguraikan keadaanku pada Ayub? Aku cuma buruh pabrik tekstil di pulau seberang yang gaji tiap bulan ludes untuk menghidupi istri dan empat anak yang masih kecil. Bedeng kontrakan kami tak jauh dari kawasan pabrik. Berhimpitan dengan bedeng-bedeng lainnya. Lingkungannya kumuh, dikepung bacin selokan dan tempat pembuangan sampah. Kami sudah biasa antre mandi, buang hajat, atau cuci pakaian di WC umum yang ada di tiap pojok bedeng.

Ayub terpana mendengar ceritaku. Sambil terkekeh-kekeh dia menyela, “Jangankan mengalaminya, membayangkannya saja aku tak sanggup.”

Menepis risau, kuraih gagang gelas. Kuseruput kopi yang dihidangkan istri Ayub. Ah, kopi yang digoreng sendiri lebih nikmat rasanya. Sambil menyulut rokok, Ayub berkata, “Kenapa tak pulang saja, Man? Beli sawah. Bertani. Meneruskan tradisi keluarga kita dulu.”
Aku tercekat. Sekian lama di rantau, sekian jauh berjarak dengan kampung halaman, tak pernah terbersit di benakku untuk pulang.

***

Sepanjang jalan menuju rumah duka, kami kenang kawan-kawan lama. Maryamah, gadis lugu yang dulu pernah aku kesengsem padanya, kini jadi biduan orkes dangdut. Namanya diubah jadi Marta. Kata Ayub, jangan harap dia menengok jika dipanggil dengan nama asli. Darto, yang paling pintar di kelas kami, jadi tukang becak di kota. Sebulan sekali dia pulang menjenguk ibunya yang sakit tua. Aku kaget mendengar nasib Sumarno. Dia jadi bencong. Ngamen di gerbong-gerbong kereta. Lantas kuingat Abas. Ayub bilang, dia ketiban bulan. Hidupnya kini makmur. Mertua Abas orang kaya di kota kecamatan. Abas ditugasi mengurus koperasi. Kesempatan itu tak disia-siakan Abas. Dia pinjamkan uang pada orang-orang dengan bunga tinggi. Masih kuingat guyonan tentang Abas dulu. Jika ketemu Abas dan ular sawah dalam waktu bersamaan, lebih baik bunuh Abas duluan, sebab culasnya melebihi ular. Dan si Ahmad, anak pendiam dan alim itu, sekarang nyantri di sebuah pesantren di Madura.

Ah, waktu telah mengubah segalanya. Kisah teman-teman lama membuatku takjub, heran, campur sedih. Hingga tak terasa tempat yang kami tuju sudah di depan mata. Usai berdoa di sisi almarhum Pak Narto, kami beringsut keluar dari ruang tamu. Duduk di seberang jalan dekat batang bambu yang dihiasi kain kuning. Makin tinggi matahari, makin banyak pelayat datang. Aku termangu menatap rumah duka itu. Ada tarup besar memayungi halaman. Kursi-kursi plastik penuh terisi. Dari bisik-bisik yang kudengar, Marta yang membayar sewa tarup dan kursi itu. Dia tak bisa datang melayat.

Dulu warga kampung ini hidup penuh harmoni dan bersahaja. Meski tak ada hubungan darah, kami merasa selayaknya saudara. Kehidupan yang lambat laun sekeras batulah yang memaksa kami untuk memilih. Merantau jadi pilihan kami, anak-anak muda kala itu.

Sejauh-jauh terbang, warga kampung ini pasti mudik setiap lebaran. Cuma aku yang jarang pulang semenjak tak ada lagi yang tersisa di sini. Begitu juga jika ada yang meninggal, Kami yang di rantau pasti dikabari. Tapi, entah kenapa, sampai jenazah Pak Narto berkalang tanah di pemakaman umum di pojok kampung, hanya segelintir teman yang kutemui. Apakah sosok lelaki kurus jangkung dan ramah itu telah lesap dari ingatan mereka? Apakah rutinitas membuat mereka tak sempat lagi untuk sekedar menengok masa silam?

***

Hari kedua di kampung. Ayub mengajakku ke sawah. Pematang-pematang itu sudah tak sabar menunggu jejakmu, guraunya. Di jalan, kami berpapasan dengan warga yang hendak ke sawah atau ladang. Ada yang jalan kaki sambil menenteng pacul di bahu. Ada yang menggoes sepeda. Aku terharu. Mereka masih mengingatku dan meluangkan waktu sejenak untuk mengobrol.

Justru generasi muda kampung ini yang membuatku jengah. Beberapa kali kulihat mereka memacu sepeda motor sesuka hati. Ngebut di jalan tanah berbatu. Meninggalkan debu panjang di depan mataku.

Sawah Ayub beberapa puluh meter di depan sana, dekat rimbunan pohon pisang. Ketika masih ngungun menatap hamparan permadani hijau itu, Ayub mengajakku turun. Kapan terakhir kali aku meniti pematang? Alangkah jauh masa itu kutinggalkan.

Ayub melenggang tanpa kuatir tergelincir ke lumpur sawah. Aku jauh tertinggal di belakangnya. Melangkah tersendat-sendat sambil merentangkan tangan untuk menjaga keseimbangan.
Lir ilir, lir ilir. Tandure wis semilir. Tak ijo royo-royo. Tak sengguh temanten anyar…

Hawa dingin meniup tengkukku ketika mendengar tembang gubahan Sunan Bonang itu. Sempat terbersit untuk mengikuti Ayub berdendang sepanjang pematang. Namun, entah kenapa, bibirku terasa kelu.

Dari huma beratap rumbia, kusaksikan Ayub berkubang di tengah sawah. Batang-batang padi meliuk. Menimbulkan suara gemerisik ketika saling bergesekan. Sepasang kepodang terbang melayang di keluasan langit. Suara serunai terdengar sayu-sayup sampai. Entah siapa peniupnya. Mendengarnya, aku seakan terhisap dan sesat dalam masa lalu.

Kami pulang menjelang petang. Memutari jalan kampung. Meski lebih jauh jaraknya, tapi aku tak keberatan. Kami mau ke sungai tempat dulu biasa berenang. Sesampainya di sana, hati-hati kami turuni tebing penuh lumut. Aku rindu membasuh muka dengan air sungai. Kutangkupkan kedua telapak tangan lalu kucelupkan ke dalam air. Ayub terkekeh-kekeh melihat kelakuanku yang mirip anak kecil. Setelah segar kami pulang. Baru beberapa puluh langkah menyusuri jalan sunyi, tiba-tiba Ayub mencekal bahuku. Tangannya menuding rimbun ilalang yang bergerak-gerak mencurigakan. Aku ingat, Ayub pernah membidik burung dengan ketapel. Bidikannya paling jitu di antara kami. Burung itu jatuh dari dahan pohon. Menggelepar di semak-semak. Kami mengendap-endap. Alangkah kaget kami memergoki pemandangan itu. Ada sepasang remaja tanggung sedang asyik bercumbu.

Ayub menghardik mereka. Aku terpana. Merasa tertangkap basah, wajah keduanya pucat dan merah padam. Mereka buru-buru membenahi pakaian lalu setengah berlari menuju tempat motor diparkir. Kami kembali melanjutkan langkah. Wajah Ayub kaku. Sepanjang jalan dia bersungut-sungut memaki kelakuan dua anak tadi.

***

Harum bunga kopi merayap dibawa angin. Bintang bertaburan di langit lama. Suara jangkerik dan kodok jadi musik alam. Aku serasa sedang berada di sorga.
“Kampung kita sudah berubah, Man,” kata Ayub sambil menatap cahaya kunang-kunang yang timbul tenggelam di rimbun ilalang.

“Ya, aku seperti orang asing di sini,” suaraku gamang.
“Semua teman kita pergi merantau. Jadi TKI, babu, atau buruh sepertimu. Tetua kampung meninggal satu-satu. Apalagi sejak teknologi modern menyerbu. Kampung kita makin kehilangan jati dirinya. Asal kau tahu, apa yang kau lihat di tepi sungai tadi belum seberapa…”

Kalimat Ayub terakhir membuatku risau. Aku enggan bertutur lebih banyak. Aku harus tahu diri. Setelah memilih jadi manusia urban, aku tak punya kuasa apa-apa lagi di sini.

***

Izin cuti empat hari telah usai. Takziah tiga malam berturut-turut di rumah almarhum Pak Narto telah kuikuti. Aku harus pulang pagi ini. Rindu kampung halaman telah kutebus dengan hal-hal menyakitkan. Tapi biarlah kutelan dalam hati saja.

Dengan motor tuanya, Ayub mengantarku ke pasar di kampung sebelah. Di sana ada angkutan pedesaan yang trayeknya sampai ke terminal kota. Dari terminal itu aku akan menyambung perjalanan ke pulau seberang.

Persis ketika kami lewati pohon randu itu, lagi-lagi Ayub mengimbauku agar pulang saja. Sebenarnya tak ada lagi yang ingin kukatakan. Namun sekedar menghibur diri, kukatakan pada Ayub bahwa aku punya mimpi yang sederhana. Satu saat nanti, jika ada uang, aku mau pulang. Membeli sawah. Bertani sambil beternak puyuh dan itik. Makan dari hasil keringat sendiri. Hidup tenteram bersama anak istri.

Ayub berjanji kelak akan menagih mimpiku. Sementara aku membayangkan omong kosong yang baru saja kuucapkan, cuma bisa tersenyum giris…***

LATIHAN : bandingkan ke dua CERPEN di atas dengan menjawab pertanyaan di bawah ini!

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Apa tema cerpen “Warisan” dan “Dendang Sepanjang Pematang”?

2. Sebutkan nama-nama tokoh yang terlibat!

3. Jelaskan perwatakan masing-masing tokoh!

4. Jelaskan latar (waktu, tempat, dan suasana) peristiwa dalam cerpen “Warisan”!

5. Temukan nilai:             a. nilai kehidupan

b. nilai agama

c. nilai sosial

d. nilai budaya

 

 

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Mendengarkan Syair   Leave a comment

KOMPETENSI DASAR: Siswa  dapat menentukan tema dan pesan yang diperdengarkan

MATERI : Syair

RINGKASAN

Kamu tentu pernah mendengarkan pembacaan syair. Syair merupakan
salah satu jenis puisi lama yang sangat terkenal. Syair berasal dari
kesusastraan Arab, dari kata syu’ur yang artinya perasaan.

Ciri-ciri syair, antara lain sebagai berikut
1. Setiap bait terdiri atas empat baris.
2. Setiap baris terdiri atas 8 sampai 14 suku kata.
3. Semua baris merupakan isi.
4. Syair bersajak aaaa.
5. Setiap bait syair tidak dapat berdiri sendiri.
6. Biasanya, setiap baris terdiri atas empat kata.

Dengarkan pembacaan penggalan syair berikut ini!
Syair Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan,
Tersebutlah pula suatu perkataan,
Abdul Hamid Syah paduka Sultan,
Duduklah baginda bersuka-sukaan.
Abdul Muluk putra baginda,
Besarlah sudah bangsawan muda,
Cantik menjelis usulnya syahda,
Tiga belas tahun umurnya ada.
Parasnya elok amat sempurna,
Petah menjelis bijak laksana,
Memberi hati bimbang gulana,
Kasih kepadanya mulya dan hina.

”Syair Abdul Muluk” menceritakan kisah seorang putra raja Hindustan
yang bernama Abdul Muluk. Dia adalah putra Abdul Hamid Syah. Abdul
Hamid Syah sangat bergembira melihat anaknya sudah cukup dewasa. Pada
saat mencapai usia tiga belas tahun, ia tampak sudah sangat dewasa. Selain
pemikirannya yang cemerlang, parasnya yang tampan, ia juga sangat bijak
dalam menghadapi banyak persoalan sehingga banyak orang yang
mengagumi dan menyukainya.
Tema ”Syair Abdul Muluk” adalah kisah putra raja yang bijak. Pesan
atau amanatnya adalah hendaklah kita menjadi orang yang bijak dan baik
budi agar dicintai sesama.

LATIHAN 1

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Siapakah Abdul Muluk?
2. Bagaimanakah sifat Abdul Muluk?
3. Di manakah keberadaan Abdul Hamid Syah?
4. Tuliskan makna kata di bawah ini
baginda        : ……………….
bangsawan  : ……………….
menjelis       : ……………….
paras             : ……………….
petah             : ……………….
5. Tulislah kembali isi syair Abdul Muluk dengan bahasa sendiri!

LATIHAN 2

Bacalah penggalan syair di bawah ini!
Inilah gerangan suatu madah,
mengarangkan syair terlalu indah,
membutuhi jalan tempat berpindah,
di sanalah iktikad diperbetuli sudah.
Wahai muda, kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat juga kekal diammu
1. Tuliskan makna kata-kata di bawah ini!
Gerangan : …………….
Madah : …………….
Iktikad : …………….
Tamsil : …………….
Kekal : …………….
2. Tentukan tema syair di atas!
3. Tentukan amanat atau pesan syair di atas!
4. Jelaskan isi syair di atas dengan menggunakan bahasamu sendiri

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Memuji dan Mengkritik Karya   Leave a comment

Kompetensi Dasar: Siswa  dapat mengkritik/memuji karya (seni atau produk) dengan bahasa yang lugas dan santun

MATERI: Memuji dan mengkritik

RINGKASAN

Karya seni adalah ciptaan yang dapat menimbulkan rasa indah bagi
orang yang melihat, mendengar, atau merasakannya. Karya seni memang
indah untuk dinikmati. Karya seni tidak hanya terbatas pada karya sastra,
tetapi juga seni yang lain, seperti seni lukis, seni musik, dan seni ukir. Kamu
tentu pernah melihat salah satu produk seni tersebut.
Secara sadar atau tidak, ketika melihat suatu produk seni, misalnya
lukisan, kamu akan melakukan penilaian meskipun sekadar mengatakan
“Wah, lukisannya bagus” atau ”lukisannya kurang bagus”.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritik adalah kecaman atau
tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk
terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Kritik yang baik
adalah apabila disampaikan dengan kalimat yang tepat dan santun serta
bersifat membangun. Oleh karena itu, kita harus dapat memilih kata yang
tepat sehingga tidak menyinggung perasaan. Kritik bersifat membangun
adalah kritik yang dapat membantu untuk berkarya lebih baik atau menjadi
lebih baik lagi setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan hasil karyanya.
Pujian merupakan pernyataan atau perkataan yang tulus akan kebaikan,
kelebihan, atau keunggulan suatu hasil karya. Pada pembelajaran ini kamu
akan berlatih untuk menyampaikan kritik dan pujian terhadap suatu karya.
Sampaikan kritik dan pujian itu dengan wajar, dan tepat serta menggunakan
bahasa yang lugas dan santun.
Perhatikan karya seni di bawah ini.

Pemandangan di sekitar Gn.Agung Bali

LATIHAN

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Jelaskan lukisan tersebut dengan bahasamu!
2. Berikan tanggapan terhadap lukisan tersebut! Sukakah kamu terhadap lukisan tersebut!
3. Berikan dua kalimat yang berisi pujian terhadap lukisan tersebut!
4. Berikan dua kalimat yang berisi kritik terhadap lukisan tersebut!
5. Mengapa memuji atau mengkritik harus menggunakan bahasa yang lugas dan santun?

Bacalah sajak berikut!

Sajak Sutarmanto
Ketika TuhanTertawa
Ranting-ranting subuh tegak ternganga
perjalanan menyusur legam kembara
mengoyak harap, hilang kisaran
segala yang ditumbuhkan malam
terbabat elang-elang
pada belantara tak bernama
lelaki tua menenteng tangan dan kakinya
bertanya lagi tentang diri sendiri
daun-daun luruh
dibangkitkannya, direnda ukiran di lusuh baju
saksikan orang-orang pulang
tanpa kenangan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut!
1. Berikan dua kalimat yang berisi kritik terhadap puisi tersebut!
2. Berikan dua kalimat yang berisi pujian teradap puisi tersebut!
3. Sampaikan kritik dan pujian yang sudah kamu tulis tersebut secara lisan di depan kelas!

TUGAS MANDIRI

1. Carilah sebuah puisi atau karya yang lain di surat kabar atau majalah!
2. Berikan pujian dan kritik terhadap karya tersebut dengan bahasa yang lugas dan santun!

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Menulis Iklan Baris   Leave a comment

KOMPETENSI DASAR: Siswa dapat menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat dan jelas.

MATERI: Iklan Baris

RINGKASAN

            Iklan baris adalah iklan singkat (kecil) yang terdiri atas beberapa baris.
Iklan baris disebut juga iklan mini. Tentu kalian sering menemukan iklan
seperti itu di surat kabar atau majalah. Tujuan iklan itu tidak berbeda dengan
iklan yang lain, yaitu untuk memberi tahu, mengajak, atau menawarkan
suatu produk barang atau jasa kepada pembaca.
Iklan baris dituliskan secara singkat dengan singkatan yang biasa
digunakan. Hal itu dilakukan karena pembayaran pemasangan iklan baris
bergantung pada jumlah baris. Meskipun ditulis singkat serta menggunakan
banyak singkatan, tetapi maksudnya harus dapat atau mudah dipahami
oleh pembaca.
Perhatikan contoh penulisan iklan baris berdasar ilustrasi ini!

Pak Andi ingin menjual rumah yang berlokasi di Kartosuro, Surakarta dengan luas tanah
dan 350 m2 luas bangunan 300 m2. Rumah tersebut ditawarkan dengan harga 800 juta
rupiah dan masih dapat dinego. Fasilitas yang ada, antara lain listrik dan telepon. Lokasi
strategis, pinggir jalan (cocok untuk usaha). Yang berminat dapat menghubungi Pak
Andi dengan nomor telepon (0271) 730567 atau HP. 081458303058.

Iklan baris berdasar ilustrasi di atas sebagai berikut :
JL. RMH Ktsuro-Ska, LT 350 m2 LB 300 m2
Hrg 800 jt, nego, Fas: List, Tlp, Strgs pgr jl/Cck utk ush.
Hub: Andi (0271) 730567 HP. 081548303058

Agar lebih jelas, perhatikan kepanjangan singkatan kata tersebut di
bawah ini :
JL : jual list : listrik
RMH : rumah tlp : telepon
LT : luas tanah strgs : strategis
LB : luas bangunan pgr jl : pinggir jalan
Hrg : harga Cck utk ush : cocok untuk usaha
jt : juta hub : hubungi
Fas : fasilitas

LATIHAN

Perhatikan iklan baris berikut!
Iklan 1
DBTHKN KASIR Prsh Kontruksi, Min SMEA, Pnpln Menarik, Mngsai Komp, Pglmn Lam Bw
Lsng WwcrRabu01-08 di Jl. Lamongan Barat 3/35 Smg
Iklan 2
Dijual, tnp perantara tnh Weleri Semarang 500 m2
Hrg 100 jt nego Hub Budi 08138912345
1. Iklan 1 berisi tentang ….
2. Iklan 2 berisi tentang ….
3. Tuliskan uraian iklan 1 dan 2 sehingga dapat dipahami!
4. Apa maksud istilah berikut!
a. dbthkn
b. min SMA
c. tnp
d. cpt
e. fas
f. 100 jt nego
g. Hub

TUGAS MANDIRI

Tulislah iklan baris yang tepat sesuai dengan ilustrasi di bawah ini!
1. Hendra hendak menyewakan rumahnya untuk kos dengan fasilitas kamar, dapur, kamar
mandi dalam, kulkas, telepon, dan garasi. Lokasinya di jalan Mawar II No. 13A. Jika
berminat hubungi 081548353546.

2. Sebuah perusahaan garmen membutuhkan segera tenaga administrasi wanita
pendidikan sarjana yang berpengalamannya minimal 3 tahun. Lamaran lengkap dikirim
langsung ke PT. Maju Jaya jalan Gatutkaca X/25 Telp. 666333/666123

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Membaca Teks Iklan   Leave a comment

KOMPETENSI DASAR: Siswa dapat membedakan fakta dan opini dalam iklan yang di baca

MATERI:  IKLAN

RINGKASAN

Kalau sering membaca surat kabar atau majalah, kamu akan dapat,
menemukan informasi berupa iklan. Iklan merupakan berita yang
menginformasikan suatu barang atau jasa yang ditawarkan kepada
pembaca. Iklan merupakan salah satu bentuk wacana persuasi. Tujuannya
untuk mempengaruhi pembaca agar mengikuti atau melaksanakan
sebagaimana yang disampaikan dalam iklan.
Hal-hal yang disajikan dalam iklan dapat berupa fakta dan opini. Fakta
adalah kenyataan atau peristiwa yang benar-benar terjadi, sedangkan opini
adalah pendapat atau tafsiran yang harus dibuktikan kebenarannya.
Bacalah teks iklan berikut dengan intensif!

Hati-hati dengan iklan.Pandailah bedakan fakta/opini kuncinya

TEMUKAN FAKTA DAN OPINI IKLAN TERSEBUT!

LATIHAN

Perhatikan iklan berikut!

KEJUTAN
BW MOTOR
September – Oktober 2007
Ingin memiliki motor dengan mudah!
Selama dua bulan penuh, mulai September sampai Oktober 2007
Nikmati fasilitas istimewa :
• Tanpa Uang Muka (DP)
• Cicilan ringan
• Bonus jaket dan helm
• Motor berbagai merk dan model terbaru
Hubungi BW Motor
Jalan Melati No. 25 Surakarta Telp (0271) 666111

Jawablah pertanyaan berikut!

1. Tulislah pokok-pokok isi iklan tersebut!
2. Tentukan fakta dan opini dari pokok-pokok isi iklan tersebut!
3. Iklan tersebut termasuk jenis iklan apa?
4. Tulislah kesimpulan iklan tersebut!
5. Berikan pendapatmu tentang penggunaan bahasa pada iklan tersebut!

TUGAS MANDIRI

1. Carilah sebuah iklan di koran atau majalah!
2. Tulislah pokok-pokok isi yang berupa fakta dan opini!
3. Buatlah kesimpulan iklan tersebut!

 

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

MENCERITAKAN KEMBALI ISI CERPEN   Leave a comment

KOMPETENSI DASAR: Siswa dapat menceritakan  kembali isi cerpen

MATERI                          : CERPEN

RINGKASAN                 :

Kamu pasti pernah membaca cerpen (cerita pendek). Cerpen adalah
bacaan yang banyak digemari. Alur ceritanya yang tidak panjang membuat
cerita ini dapat dibaca dalam waktu yang tidak terlalu lama. Berapa banyak
cerpen yang telah kamu baca? Masih ingatkah isi cerpen yang pernah kamu
baca?
Kamu akan memiliki pengetahuan lebih banyak tentang cerpen dengan
belajar menceritakan isi cerpen yang telah dibaca. Hal-hal yang perlu diingat
ketika menceritakan isi cerpen adalah alur cerita atau jalan cerita,
penokohan, dan latar cerita. Hal-hal tersebut merupakan faktor penting
atau modal dalam bercerita.
Bacalah cerpen berikut!

Bapak : le Bapak di PHK makan apa ya
Anak : Ya makan nasi! Masak makan batu

RAPELAN
Karya: Riyanti
Bejo berputar-putar di depan cermin, sesekali
memegang krah bajunya, sesekali membenahi letak sabuk,
kemudian melihat wajahnya. Sudah hampir seperempat jam
Bejo berdandan. Hatinya berbunga-bunga. penantiannya
yang sangat melelahkan kini berakhir. Hari ini adalah
pertemuan untuk menerima surat keputusan (SK) sebagai
guru.
“Mas…dandannya disudahi dulu. Sekarang sarapan,
sudah jam tujuh lo…,”
“Wah, Bu… bagaimana pendapatmu tentang
penampilanku hari ini?”
“Wis… wis… wis… Pak Guru Bejo adalah guru yang
paling nggguan-theeeng di dunia,” hibur istrinya.
“Pokoknya nanti kalau sudah masuk kerja, dapat rapelan gaji…kamu tak belikan
baju yang bagus-bagus, tak belikan blender, kipas angin, dispenser, cincin, kalung,
gelang, … pokoknya yang kamu suka, … nanti buat si thole (anak laki-laki) tak belikan
mainan tembak-tembakan, mobil-mobilan. Kita dapat jalan-jalan ke mal biar kelihatan
agak modern begitu lo….. “
Selama masa menunggu SK, hampir semua kebutuhan yang diperlukannya yang
mencukupi adalah isterinya yang bekerja sebagai penjahit. Begitu pengumuman Bejo
masuk dalam CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), dia langsung mengundurkan diri
dari perusahaan tempat dia bekerja.
Suatu hari Bejo datang ke tempat pertemuan, Di tempat itu, kurang lebih dua
ratus orang yang sama-sama lolos menjadi calon pegawai. Wajah mereka tampak
berseri-seri.
“Mas Bakir, Mas Bakir, kamu ngambil undangannya kapan?” tanya Bejo kepada
temannya yang bernama Bakir.
“Lupa…., tiga hari yang lalu apa ya… kamu total habis berapa?”

“La memang kamu habis berapa? Sama kan harga undangannya. Apa ada yang
beda?”
“Bukan, maksudku selain uang yang kemarin itu?”
“Nggak ada. Siapa yang kena?”
“Aku juga cuma diceritain. Ada yang dua, ada yang satu setengah… gara-garanya
datanya nggak komplet?”
Bejo cuma tersenyum, “Ya… te es te (tahu sama tahu) lah. Makanya, kemarin itu
walaupun aku stres berat menunggu pengumuman penempatan, aku pilih cooling down.
Toh aku yakin kalau aku benar-benar lolos. Ada beberapa teman yang menyarankan
untuk membeli tempat…, tapi aku punya prinsip nggak ada istilah beli-belian begitu.”
Tampak di depan aula besar orang-orang penting memasuki ruangan. Semua
pandangan tertuju pada orang-orang penting itu. Beberapa menit kemudian orangorang
itu berbicara satu per satu.
Bagi Bejo atau mungkin juga yang lainnya, apa yang dibicarakan oleh orangorang
penting itu tidak penting. Yang mereka butuhkan adalah kejelasan mereka benarbenar
diangkat sebagai calon pegawai. Tentu saja ada bukti tertulisnya. Ada orang
penting yang mengatakan bahwa penerimaan pegawai tersebut tanpa dipungut biaya
sepeser pun. Hal itu tidak pernah menjadi masalah bagi Bejo dan kawan-kawan.
Matahari sudah condong ke barat, udara panas menyengat. Walaupun udara
panas, ketika Bejo datang, ia tetap dengan senyum yang mengembang. Motor tuanya
diparkir di halaman.
Dikeluarkannya selembar “surat sakti” dan diberikan kepada isterinya setelah
Bejo masuk ke dalam rumah. “Wah, syukur, perkiraanku tidak meleset jauh. Paling
dari sini tiga kilo, ya, Mas.”
“Iya dapat santai. Tidak usah kemrungsung (buru-buru) pun dapat datang pagi.
Lihat gajinya Bu padahal terhitung mulai bulan apa itu. Hitung saja sampai sekarang
sudah berapa bulan tentu rapelannya banyak sekali. Ibu dapat beli mesin cuci yang
diinginkan katanya kamu punya itu.”
Istrinya tampak tersipu mendengar kata-kata suaminya. Hatinya sumringah
(senang/bahagia) membayangkan suaminya mendapatkan rezeki nomplok.
Sepekan sudah berlalu. Bejo sibuk ke sekolah setiap hari. Sekarang dia benarbenar
terjun ke sekolah. Bagaikan darah dalam daging, Bejo benar-benar mengikhlaskan
hati dan membulatkan tekad untuk memajukan sekolah, mengabdi sepenuhnya kepada
negara, dan mencerdaskan kehidupan generasi muda. Setiap pukul setengah tujuh,
Bejo sudah melaju dengan sepeda motor tuanya.
Akhir bulan Bejo tidak seperti biasanya tampak kusut seperti orang yang kalah
perang. Biasanya, ketika pulang ke rumah ia akan menceritakan segala yang
didapatkannya hari ini di sekolah. Tapi, saat itu ia langsung ganti baju, cuci tangan,
dan tidur tanpa makan siang. Istrinya heran, tetapi tidak ingin mengganggu suaminya
yang mesti sedang ada masalah. “Ah… mudah-mudahan tidak ada apa-apa.”
Saat melihat suaminya tidur di kamarya, istri Bejo kembali menekuni tumpukan
kain dan mesin jahitnya. Baru setengah jam, dirasakannya tangan suaminya memegang
bahunya.
“Lo… kenapa nggak jadi tidur?”
“Aku nggak dapat tidur. Pusing, sebel, anyel (kesel), campur aduk jadi satu.
Rasanya ingin marah… tapi percuma.”
“Memangnya ada apa? Apa dhahar dulu saja, saya ambilkan, ya,?”
“Nggak. Aku nggak selera makan,” Bejo menahan tangan isterinya yang hendak
beranjak dari duduknya.

“Aku mau minta maaf,” nada suara Bejo terdengar sangat lirih, seperti ada beban
yang begitu berat dirasakannya.
“Lo, minta maaf untuk apa? Memangnya Mas salah apa?”
“Mungkin…..aku tidak dapat memenuhi janjiku yang kemarin-kemarin. Aku dan
hampir teman-teman tidak kuasa apa-apa atas rapelan itu. Bahkan, mungkin gaji
pertamaku harus kurelakan untuk biaya syukuran, baik di sekolah maupun tetangga
kita. Bahkan mungkin… aku mau pinjam uangmu dulu karena besok pengumpulan
terakhir. Aku sendiri tidak tahu uang itu untuk apa karena tidak ada kuitansinya. Yang
jelas semua sudah membayar tinggal aku dan Jupri, guru olahraga.”
“Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak pernah menuntut semua itu kok
Mas… jangan terlalu terbebani. Ya, bagaimanapun harus kita syukuri anugerah ini.
Lihat saja tahun kemarin… orang-orang yang dapat masuk tidak cukup 30 juta seperti
cerita teman Mas di sekolah. Mas sendiri pernah bilang… te es te lah…,” kata istri
Bejo sambil berjalan menuju meja makan.
Bejo mengikuti istrinya. Bebannya sudah agak terkurangi. Apalagi dia sadar betul,
tidak ada teman yang berani, tidak juga dirinya untuk “unjuk rasa” karena pasti akan
menghadapi kesulitan besar di masa-masa yang akan datang. Nah lho…..

LATIHAN 1

Jawablah secara lisan!
1. Apa tema cerpen “Rapelan” karya Riyanti di atas?
2. Sebutkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen Rapelan!
3. Bagaimana watak Bejo?
4. Apa yang dialami Bejo?
5. Apa pekerjaan istri Bejo?
6. Mengapa Bejo minta maaf kepada istrinya?
7. Apa yang membuat Bejo ketika pulang langsung tidur?
8. Di mana latar dalam cerpen tersebut!
9. Sebutkan nilai didik yang dapat diambil dari cerita di atas!
10. Berikan pendapatmu tentang tokoh Bejo dalam cerpen di atas!

LATIHAN 2

Ceritakan kembali isi cerpen Rapelan dengan gaya dan bahasa yang menarik!

 

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

MENDENGARKAN DIALOG INTERAKTIF   Leave a comment

KOMPETENSI DASAR : Siswa dapat menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/siaran radio

MATERI : Dialog Interaktif

RINGKASAN

Dialog adalah percakapan antara dua orang atau lebih. Mendengarkan dialog merupakan kegiatan menyimak yang memerlukan konsentrasi untuk memperoleh informasi dan untuk memahaminya.
Radio dan televisi merupakan media elektronik yang dapat menjadi sumber berita dan informasi. Di media tersebut, kita dapat mendengar atau melihat acara dialog. Dengan mendengarkan dialog antartokoh, kita akan
dapat memahami pandangan setiap tokoh terhadap suatu masalah. Setelah mendengarkan dialog, kita harus mampu menyimpulkan isinya dan memahami informasi yang terdapat dalam dialog tersebut.
Tutuplah buku pelajaranmu, dengarkan dialog yang akan dibacakan oleh gurumu atau rekaman berikut!

                                                                        

Kak PG : Apa kepanjangan Pramuka
Acoi : Saat rambut tak dicukur.
Kak PG : Kenapa?
Acil : Mukanya tak tampak. Prak=ancur Muka=Muka. Jadi prakmuka = Mukanya ancur!
Kak PG : Hah…

                                   Mengurangi Pemakaian BBM
Ade                           : Apa yang dimaksud dengan gas metana?
Hery Haerudin     : Istilah lain dari gas metana adalah gas rawa. Istilah itu diambil karena rawa banyak mengandung gas

                                       metana. Coba saja kita tancapkan bambu di rawa. Kalau disulut api, bambu pasti meledak, semacam

                                       ledakan kecil. Ledakan terjadi melalui pembusukan dari dalam bambu tersebut sehingga membentuk

                                       gas      metana yang menyemburkan api.
Ade                            : Apakah biogas juga banyak mengandung gas metana?
Hery Haerudin      : Ya. Gas metana terkandung dalam biogas, yakni melalui pembusukan dibantu dengan unsur mikroba

                                        atau bakteri yang mempercepat pembentukan gas tersebut. Gas metana berasal dari hasil limbah

                                        peternakan dan pertanian.

Ade                            : Bagaimana cara mengembangkannya?
Hery Haerudin      : Suatu area peternakan dan pertanian luas dapat digunakan sebagai sumber energi biogas

                                        alternatif. Caranya, kotoran dan limbah pertanian ditampung dalam tangki tertutup yang

                                        bentuknya seperti lonceng terbalik. Melalui proses itu, akan dihasilkan gas metana yang
dapat mengeluarkan energi untuk kebutuhan pemanasan.
Ade                             : Apa keuntungan penggunaan biogas sebagai energi alternatif?
Hery Haerudin       : Energi alternatif yang dihasilkan tergolong energi terbaru. Energi itu tidak merusak lingkungan

                                        sehingga kita tidak bergantung pada energi dari fosil bumi atau minyak bumi. Energi tersebut

                                        juga tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan, seperti polusi atau pencemaran.

Ade                             : Apakah biogas dapat dimanfaatkan menjadi energi gerak atau listrik?

Hery Haerudin       : Hal itu sangat dimungkinkan sebab gas metana yang dihasilkan dapat membakar dan
menjadi energi gerak berupa energi listrik. Tentu saja perlu ada instalasi tambahan. Misalnya,
dibuatkan turbin atau peralatan lain untuk menghasilkan energi listrik. Dari turbin itu,
dihasilkan energi listrik. Kemudian, energi tersebut disimpan.
Ade                             : Dari segi biaya apakah relatif murah?
Hery Haerudin       : Saya kira penggunaan dan pembuatan biogas untuk kebutuhan sehari-hari secara ekonomi
masih terjangkau. Dananya relatif murah dengan catatan tersedia banyak bahan baku
biogas. Semakin banyak sumber alam, produksi energi biogas yang dihasilkan juga semakin
banyak. Tentu, hal itu akan lebih hemat biaya karena energi listrik dari biogas tidak
memerlukan kabel untuk memasok listrik.

LATIHAN

Jawablah pertanyaan berikut!
1. Apa tema dialog di atas?
2. Apa yang dimaksud dengan biogas dalam dialog di atas?
3. Bagaimana cara mengembangkan biogas?
4. Mengapa biogas dapat memberi keuntungan?
5. Siapa yang bertindak sebagai narasumber dan pewawancara dalam dialog di atas?

TUGAS MANDIRI

Dengarkan dialog interaktif di stasiun radio dan televisi dengan melengkapi format berikut
ini!
Nama acara     : ……………………………………………………………………………………………
Sumber acara : ……………………………………………………………………………………………
Jam tayang      : ……………………………………………………………………………………………
Tema dialog     : ……………………………………………………………………………………………
Narasumber     : ……………………………………………………………………………………………
Penanya/moderator : ……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Simpulan           : ……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.