MENCERITAKAN KEMBALI ISI CERPEN   Leave a comment

KOMPETENSI DASAR: Siswa dapat menceritakan  kembali isi cerpen

MATERI                          : CERPEN

RINGKASAN                 :

Kamu pasti pernah membaca cerpen (cerita pendek). Cerpen adalah
bacaan yang banyak digemari. Alur ceritanya yang tidak panjang membuat
cerita ini dapat dibaca dalam waktu yang tidak terlalu lama. Berapa banyak
cerpen yang telah kamu baca? Masih ingatkah isi cerpen yang pernah kamu
baca?
Kamu akan memiliki pengetahuan lebih banyak tentang cerpen dengan
belajar menceritakan isi cerpen yang telah dibaca. Hal-hal yang perlu diingat
ketika menceritakan isi cerpen adalah alur cerita atau jalan cerita,
penokohan, dan latar cerita. Hal-hal tersebut merupakan faktor penting
atau modal dalam bercerita.
Bacalah cerpen berikut!

Bapak : le Bapak di PHK makan apa ya
Anak : Ya makan nasi! Masak makan batu

RAPELAN
Karya: Riyanti
Bejo berputar-putar di depan cermin, sesekali
memegang krah bajunya, sesekali membenahi letak sabuk,
kemudian melihat wajahnya. Sudah hampir seperempat jam
Bejo berdandan. Hatinya berbunga-bunga. penantiannya
yang sangat melelahkan kini berakhir. Hari ini adalah
pertemuan untuk menerima surat keputusan (SK) sebagai
guru.
“Mas…dandannya disudahi dulu. Sekarang sarapan,
sudah jam tujuh lo…,”
“Wah, Bu… bagaimana pendapatmu tentang
penampilanku hari ini?”
“Wis… wis… wis… Pak Guru Bejo adalah guru yang
paling nggguan-theeeng di dunia,” hibur istrinya.
“Pokoknya nanti kalau sudah masuk kerja, dapat rapelan gaji…kamu tak belikan
baju yang bagus-bagus, tak belikan blender, kipas angin, dispenser, cincin, kalung,
gelang, … pokoknya yang kamu suka, … nanti buat si thole (anak laki-laki) tak belikan
mainan tembak-tembakan, mobil-mobilan. Kita dapat jalan-jalan ke mal biar kelihatan
agak modern begitu lo….. “
Selama masa menunggu SK, hampir semua kebutuhan yang diperlukannya yang
mencukupi adalah isterinya yang bekerja sebagai penjahit. Begitu pengumuman Bejo
masuk dalam CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil), dia langsung mengundurkan diri
dari perusahaan tempat dia bekerja.
Suatu hari Bejo datang ke tempat pertemuan, Di tempat itu, kurang lebih dua
ratus orang yang sama-sama lolos menjadi calon pegawai. Wajah mereka tampak
berseri-seri.
“Mas Bakir, Mas Bakir, kamu ngambil undangannya kapan?” tanya Bejo kepada
temannya yang bernama Bakir.
“Lupa…., tiga hari yang lalu apa ya… kamu total habis berapa?”

“La memang kamu habis berapa? Sama kan harga undangannya. Apa ada yang
beda?”
“Bukan, maksudku selain uang yang kemarin itu?”
“Nggak ada. Siapa yang kena?”
“Aku juga cuma diceritain. Ada yang dua, ada yang satu setengah… gara-garanya
datanya nggak komplet?”
Bejo cuma tersenyum, “Ya… te es te (tahu sama tahu) lah. Makanya, kemarin itu
walaupun aku stres berat menunggu pengumuman penempatan, aku pilih cooling down.
Toh aku yakin kalau aku benar-benar lolos. Ada beberapa teman yang menyarankan
untuk membeli tempat…, tapi aku punya prinsip nggak ada istilah beli-belian begitu.”
Tampak di depan aula besar orang-orang penting memasuki ruangan. Semua
pandangan tertuju pada orang-orang penting itu. Beberapa menit kemudian orangorang
itu berbicara satu per satu.
Bagi Bejo atau mungkin juga yang lainnya, apa yang dibicarakan oleh orangorang
penting itu tidak penting. Yang mereka butuhkan adalah kejelasan mereka benarbenar
diangkat sebagai calon pegawai. Tentu saja ada bukti tertulisnya. Ada orang
penting yang mengatakan bahwa penerimaan pegawai tersebut tanpa dipungut biaya
sepeser pun. Hal itu tidak pernah menjadi masalah bagi Bejo dan kawan-kawan.
Matahari sudah condong ke barat, udara panas menyengat. Walaupun udara
panas, ketika Bejo datang, ia tetap dengan senyum yang mengembang. Motor tuanya
diparkir di halaman.
Dikeluarkannya selembar “surat sakti” dan diberikan kepada isterinya setelah
Bejo masuk ke dalam rumah. “Wah, syukur, perkiraanku tidak meleset jauh. Paling
dari sini tiga kilo, ya, Mas.”
“Iya dapat santai. Tidak usah kemrungsung (buru-buru) pun dapat datang pagi.
Lihat gajinya Bu padahal terhitung mulai bulan apa itu. Hitung saja sampai sekarang
sudah berapa bulan tentu rapelannya banyak sekali. Ibu dapat beli mesin cuci yang
diinginkan katanya kamu punya itu.”
Istrinya tampak tersipu mendengar kata-kata suaminya. Hatinya sumringah
(senang/bahagia) membayangkan suaminya mendapatkan rezeki nomplok.
Sepekan sudah berlalu. Bejo sibuk ke sekolah setiap hari. Sekarang dia benarbenar
terjun ke sekolah. Bagaikan darah dalam daging, Bejo benar-benar mengikhlaskan
hati dan membulatkan tekad untuk memajukan sekolah, mengabdi sepenuhnya kepada
negara, dan mencerdaskan kehidupan generasi muda. Setiap pukul setengah tujuh,
Bejo sudah melaju dengan sepeda motor tuanya.
Akhir bulan Bejo tidak seperti biasanya tampak kusut seperti orang yang kalah
perang. Biasanya, ketika pulang ke rumah ia akan menceritakan segala yang
didapatkannya hari ini di sekolah. Tapi, saat itu ia langsung ganti baju, cuci tangan,
dan tidur tanpa makan siang. Istrinya heran, tetapi tidak ingin mengganggu suaminya
yang mesti sedang ada masalah. “Ah… mudah-mudahan tidak ada apa-apa.”
Saat melihat suaminya tidur di kamarya, istri Bejo kembali menekuni tumpukan
kain dan mesin jahitnya. Baru setengah jam, dirasakannya tangan suaminya memegang
bahunya.
“Lo… kenapa nggak jadi tidur?”
“Aku nggak dapat tidur. Pusing, sebel, anyel (kesel), campur aduk jadi satu.
Rasanya ingin marah… tapi percuma.”
“Memangnya ada apa? Apa dhahar dulu saja, saya ambilkan, ya,?”
“Nggak. Aku nggak selera makan,” Bejo menahan tangan isterinya yang hendak
beranjak dari duduknya.

“Aku mau minta maaf,” nada suara Bejo terdengar sangat lirih, seperti ada beban
yang begitu berat dirasakannya.
“Lo, minta maaf untuk apa? Memangnya Mas salah apa?”
“Mungkin…..aku tidak dapat memenuhi janjiku yang kemarin-kemarin. Aku dan
hampir teman-teman tidak kuasa apa-apa atas rapelan itu. Bahkan, mungkin gaji
pertamaku harus kurelakan untuk biaya syukuran, baik di sekolah maupun tetangga
kita. Bahkan mungkin… aku mau pinjam uangmu dulu karena besok pengumpulan
terakhir. Aku sendiri tidak tahu uang itu untuk apa karena tidak ada kuitansinya. Yang
jelas semua sudah membayar tinggal aku dan Jupri, guru olahraga.”
“Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak pernah menuntut semua itu kok
Mas… jangan terlalu terbebani. Ya, bagaimanapun harus kita syukuri anugerah ini.
Lihat saja tahun kemarin… orang-orang yang dapat masuk tidak cukup 30 juta seperti
cerita teman Mas di sekolah. Mas sendiri pernah bilang… te es te lah…,” kata istri
Bejo sambil berjalan menuju meja makan.
Bejo mengikuti istrinya. Bebannya sudah agak terkurangi. Apalagi dia sadar betul,
tidak ada teman yang berani, tidak juga dirinya untuk “unjuk rasa” karena pasti akan
menghadapi kesulitan besar di masa-masa yang akan datang. Nah lho…..

LATIHAN 1

Jawablah secara lisan!
1. Apa tema cerpen “Rapelan” karya Riyanti di atas?
2. Sebutkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen Rapelan!
3. Bagaimana watak Bejo?
4. Apa yang dialami Bejo?
5. Apa pekerjaan istri Bejo?
6. Mengapa Bejo minta maaf kepada istrinya?
7. Apa yang membuat Bejo ketika pulang langsung tidur?
8. Di mana latar dalam cerpen tersebut!
9. Sebutkan nilai didik yang dapat diambil dari cerita di atas!
10. Berikan pendapatmu tentang tokoh Bejo dalam cerpen di atas!

LATIHAN 2

Ceritakan kembali isi cerpen Rapelan dengan gaya dan bahasa yang menarik!

 

Posted Juni 17, 2012 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 9

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: