Archive for Februari 2014

Memahami Sifat Tuhan Melalui Puisi   Leave a comment

DOALAH DISAAT YANG TEPAT

DOALAH DISAAT YANG TEPAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Doa

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku,

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

Menyebut Kau penuh seluruh

CahayaMu panas suci

Tinggal kerdip lilin

di kelam sunyi

Tuhanku,

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku,

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku,

Di pintuMu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

(Chairil Anwar: Deru Campur Debu)

 No.  Unsur Intrinsik

 

Pernyataan

 

Bukti Kutipan

 

1

Tema Ketuhanan Kata “Tuhan” disebut  empat kali 

2

Amanat
  1. Mengingat Tuhan ketika dalam kondisi apapun.
  2. Hanya kepada Tuhan kita mengabdi dan memohon.

 

  1. Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

Menyebut Kau penuh seluruh

  1.  Di pintuMu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

3

Diksi
  1. Terlalu kecil cahaya Tuhan yang kita dapatkan
  2. Mengingat Tuhan hingga lupa urusan merawat diri
  3. Di dunia

 

  1. a.      CahayaMu panas suci

      Tinggal kerdip lilin

di kelam sunyi

  1. Tuhanku,

Aku hilang bentuk

      Remuk

  1. Tuhanku,

Aku mengembara di negeri asing

 

4

Majas
  1. Metafora
  2. Ironi
  3. CahayaMu panas suci
  4. Tinggal kerdip lilin
      di kelam sunyi

5

Citraan
  1. Citraan perasaan
  2. Citraan penglihatan
  3. CahayaMu panas suci
  4. Tinggal kerdip lilin
      di kelam sunyi

6

Rima Bunyi  vocal [ u ]Bunyi konsonan [ k ] [n ] [ng ]Rima yang digunakan yakni rima tengah  untuk bunyi vocal

Dan rima akhir untuk konsonan

Tuhanku,Aku hilang bentuk

Remuk

 

HASIL DISKUSI EKSTRA JURNALISTIK 25 JANUARI 2014

“Memahami sifat Tuhan melalui teks puisi “Doa” karya Chairil Anwar

Iklan

Posted Februari 11, 2014 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra, MATERI KELAS 7

MENEMUKAN PESAN PUISI MELALUI PARAFRASE   Leave a comment

 

KITA LUKIS PERPISAHAN PADA DINDING LANGIT

KITA LUKIS PERPISAHAN PADA DINDING LANGIT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita dan Sketsa Senja

Karya Dhani Fuadilah

 

Kita buat sketsa senja

Sebagai hadiah perpisahan

Meski terlihat redup.

Namun di foto itu

Ombak dan angin laut tetap ceria

Bersama pakaian yang masih basah juga

Pasir dan air garam

 

Esok, kita patahkan sebatang cerah pagi

Untuk penerang malam gelap

Karena lampu sudah semakin mahal

Dan nyalanyapun makin redup

Sementara bintang teramat jauh

 

Jadikan sebuah tilas

Pada bunga dan buah, serta ucapkan

Terima kasih untuk lebah-lebah

Di taman yang mengajarkan kita

Memetik matahari kala terbit

Dan menata indah lembayung

 

Sumber: Pendhapa, 1 Februari 2006

 

 

HASIL DISKUSI KELAS 7 D KAMIS, 30 JANUARI 2014

MENANGKAP PESAN PUISI MELALUI TEKNIK PARAFRASE

 

  1. A.     Parafrase

Kita membuat sketsa senja sebagai  hadiah perpisahan antara kita. Meski matahari terlihat meredup. Namun di foto itu menunjukkan pemandangan ombak dan angin laut tetap terlihat ceria. Kita bersama mengenakan pakaian yang masih basah. Bercampur pasir dan air garam saat mandi di laut

 

Esok, kita patahkan sebatang pohon saat cerah pagi datang .Untuk obor penerang malam gelap Karena lampu sudah semakin mahal dan nyalanyapun makin redup. Sementara bintang teramat jauh tidak dapat menerangi tempat kita.

 

Jadikan sebuah tempat petilasan pada bunga dan buah, serta ucapkan terima kasih untuk lebah-lebah di taman yang mengajarkan kita. Bagaimana memetik matahari kala terbit dan menata matahari saat terbenam agar tampak seindah lembayung

 

  1. B.     Amanat

    Penyair mengajak pembaca ‘kita’ untuk bersama-sama melukis senja di tepi

laut/pantai sebagai tanda perpisahan yang membahagiakan ‘kita’.

Umumnya perpisahan berujung kesedihan, tetapi melalui puisi Kita dan Sketsa Senja, penyair mengajak pembaca untuk mengakhiri pertemuan dengan kebahagiaan.

 

Posted Februari 11, 2014 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra, MATERI KELAS 7