Archive for the ‘Analisis Sastra’ Category

Memahami Sifat Tuhan Melalui Puisi   Leave a comment

DOALAH DISAAT YANG TEPAT

DOALAH DISAAT YANG TEPAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Doa

Kepada pemeluk teguh

Tuhanku,

Dalam termangu

Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

Menyebut Kau penuh seluruh

CahayaMu panas suci

Tinggal kerdip lilin

di kelam sunyi

Tuhanku,

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku,

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku,

Di pintuMu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

(Chairil Anwar: Deru Campur Debu)

 No.  Unsur Intrinsik

 

Pernyataan

 

Bukti Kutipan

 

1

Tema Ketuhanan Kata “Tuhan” disebut  empat kali 

2

Amanat
  1. Mengingat Tuhan ketika dalam kondisi apapun.
  2. Hanya kepada Tuhan kita mengabdi dan memohon.

 

  1. Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh

Menyebut Kau penuh seluruh

  1.  Di pintuMu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

3

Diksi
  1. Terlalu kecil cahaya Tuhan yang kita dapatkan
  2. Mengingat Tuhan hingga lupa urusan merawat diri
  3. Di dunia

 

  1. a.      CahayaMu panas suci

      Tinggal kerdip lilin

di kelam sunyi

  1. Tuhanku,

Aku hilang bentuk

      Remuk

  1. Tuhanku,

Aku mengembara di negeri asing

 

4

Majas
  1. Metafora
  2. Ironi
  3. CahayaMu panas suci
  4. Tinggal kerdip lilin
      di kelam sunyi

5

Citraan
  1. Citraan perasaan
  2. Citraan penglihatan
  3. CahayaMu panas suci
  4. Tinggal kerdip lilin
      di kelam sunyi

6

Rima Bunyi  vocal [ u ]Bunyi konsonan [ k ] [n ] [ng ]Rima yang digunakan yakni rima tengah  untuk bunyi vocal

Dan rima akhir untuk konsonan

Tuhanku,Aku hilang bentuk

Remuk

 

HASIL DISKUSI EKSTRA JURNALISTIK 25 JANUARI 2014

“Memahami sifat Tuhan melalui teks puisi “Doa” karya Chairil Anwar

Iklan

Posted Februari 11, 2014 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra, MATERI KELAS 7

MENEMUKAN PESAN PUISI MELALUI PARAFRASE   Leave a comment

 

KITA LUKIS PERPISAHAN PADA DINDING LANGIT

KITA LUKIS PERPISAHAN PADA DINDING LANGIT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita dan Sketsa Senja

Karya Dhani Fuadilah

 

Kita buat sketsa senja

Sebagai hadiah perpisahan

Meski terlihat redup.

Namun di foto itu

Ombak dan angin laut tetap ceria

Bersama pakaian yang masih basah juga

Pasir dan air garam

 

Esok, kita patahkan sebatang cerah pagi

Untuk penerang malam gelap

Karena lampu sudah semakin mahal

Dan nyalanyapun makin redup

Sementara bintang teramat jauh

 

Jadikan sebuah tilas

Pada bunga dan buah, serta ucapkan

Terima kasih untuk lebah-lebah

Di taman yang mengajarkan kita

Memetik matahari kala terbit

Dan menata indah lembayung

 

Sumber: Pendhapa, 1 Februari 2006

 

 

HASIL DISKUSI KELAS 7 D KAMIS, 30 JANUARI 2014

MENANGKAP PESAN PUISI MELALUI TEKNIK PARAFRASE

 

  1. A.     Parafrase

Kita membuat sketsa senja sebagai  hadiah perpisahan antara kita. Meski matahari terlihat meredup. Namun di foto itu menunjukkan pemandangan ombak dan angin laut tetap terlihat ceria. Kita bersama mengenakan pakaian yang masih basah. Bercampur pasir dan air garam saat mandi di laut

 

Esok, kita patahkan sebatang pohon saat cerah pagi datang .Untuk obor penerang malam gelap Karena lampu sudah semakin mahal dan nyalanyapun makin redup. Sementara bintang teramat jauh tidak dapat menerangi tempat kita.

 

Jadikan sebuah tempat petilasan pada bunga dan buah, serta ucapkan terima kasih untuk lebah-lebah di taman yang mengajarkan kita. Bagaimana memetik matahari kala terbit dan menata matahari saat terbenam agar tampak seindah lembayung

 

  1. B.     Amanat

    Penyair mengajak pembaca ‘kita’ untuk bersama-sama melukis senja di tepi

laut/pantai sebagai tanda perpisahan yang membahagiakan ‘kita’.

Umumnya perpisahan berujung kesedihan, tetapi melalui puisi Kita dan Sketsa Senja, penyair mengajak pembaca untuk mengakhiri pertemuan dengan kebahagiaan.

 

Posted Februari 11, 2014 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra, MATERI KELAS 7

MEMAHAMI PERISTIWA ALAM MELALUI TEKS SASTRA   Leave a comment

Di Muka Jendela

Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari
ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputusputus di hatimu menggigil
dan sebuah kata merekah
diucapkan ke ruang yang jauh: –Datanglah!

Ada sepasang bukit, meruncing merah
dari tanah padang-padang yang tengadah
di mana tangan-hatimu terulur. Pula
ada menggasing kincir yang sunyi
ketika senja mengerdip, dan di ujung benua
mencecah pelangi:
Tidakkah sapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?

1961

Jawablah beberapa pertanyaan berikut ini!

a) Keindahan seperti apa yang digambarkan dalam puisi tersebut?

b) Nilai-nilai apakah yang terdapat dalam puisi tersebut?

 

 

JAWABAN:

  1. Pemandangan daun cemara berguguran saat datangnya musim kemarau.  Pemandangan senja di sepasang bukit  saat mentari meredup di ujung barat.
  2. Manusia rindukan kedamaian, tetapi tidak akan terwujud. Jika manusia masih tidak menghormati keberagaman (NILAI KEMANUSIAAN)

    Dalam termangu

    Dalam termangu CahayaMu panas suci

Posted Januari 25, 2014 by mtsmudenpasar in MATERI KELAS 7

Tagged with

Memahami Isi Puisi   Leave a comment

Perhatikan penggalan puisi berikut!

Dendang Sayang

Aku tutup rapat pintu dan jendela

untuk tidak tahu lagi derita

dibawa angin dan cahaya

Tapi kembang hitam dan awan hitam

terselip selalu di tali rebab menikam

Ramadhan K.H.

1. Citraan yang tergambar dalam  penggalan puisi di atas adalah … .

Posted Juni 16, 2012 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra

RINGKASAN MATERI KLS 9 SMT GENAP   Leave a comment

RINGKASAN   1

1. Sama halnya dengan menyimpulkan isi dialog interaktif, menyimpulkan isi
pidato juga dilakukan dengan menyusun hal-hal penting menjadi sebuah paragraf. Dengan demikian, hal-hal penting dalam pidato perlu dicatat saat menyimak pidato.

2. Berpidato adalah menyampaikan pendapat dan informasi di depan khalayak. Maka dari itu, sebelum berpidato harus mempersiapkan dengan sebaikbaiknya. Persiapan tersebut meliputi memahami dan menguasai materi, memperbanyak informasi dan pengetahuan berkaitan dengan materi, melakukan latihan, serta mempersiapkan diri secara fisik dan mental.

3. Kebiasaan, adat, dan etika yang terdapat dalam novel angkatan 20
sampai 30-an masih kental. Namun, keterkaitan isi novel dengan kehidupan
masa kini masih dapat dirasakan. Misalnya hidup hemat, menanamkan
nilai tolong-menolong, menanamkan kebersamaan, dan lain-lain.

4. Karya tulis ilmiah disusun berdasarkan fakta dan data. Karya tulis ilmiah disajikan secara objektif dan menggunakan bahasa yang lugas dan jelas.
Sistematika penulisan karya tulis ilmiah adalah pendahuluan, permasalahan,
pembahasan, penutup: kesimpulan dan saran.

RINGKASAN  2

1. Komentar terhadap pidato yang diperdengarkan harus tepat dan baik.
Tepat maksudnya komentar sesuai dengan isi pidato. Adapun baik
maksudnya sopan dan tidak menyinggung perasaan.
2. Pembahasan terhadap pementasan drama dapat dilakukan terhadap unsur
intrinsik, unsur pementasan, serta ekspresi, intonasi, dan volume tokoh.
3. Gagasan utama sebuah artikel atau buku dapat ditemukan setelah
membaca keseluruhan bahan yang tersedia. Sebelum menentukan gagasan
utama, terlebih dahulu menentukan gagasan penting-gagasan penting
dalam artikel atau buku tersebut.
4. Surat pembaca adalah surat yang dibuat oleh seseorang yang ditujukan
kepada pihak lain yang dimuat dalam rubrik khusus di surat kabar atau
majalah. Surat pembaca dapat berisi permasalahan, usul, saran, atau
tanggapan. Surat pembaca ditulis dengan bahasa yang sopan, jelas, dan
komunikatif.

RINGKASAN  3

1. Pidato adalah pengungkapan pikiran atau ide atau gagasan yang ditujukan
kepada khalayak umum. Dalam menyimpulkan pesan pidato, perlu
menemukan hal-hal penting dalam pidato tersebut. Catatlah hal-hal penting
dalam pidato saat menyimak pidato.

2. Pihak-pihak yang terdapat dalam diskusi antara lain moderator, penyaji,
notulis, dan peserta diskusi. Kegiatan berdiskusi dipimpin oleh seorang moderator. Seorang penyaji bertugas menyampaikan masalah yang didiskusikan. Peserta diskusi berhak untuk mengajukan pendapat. Saat mengajukan pendapat, peserta diskusi harus menyampaikan maksudnya terlebih dahulu kepada moderator, kemudian moderator menyampaikan pendapat tersebut kepada penyaji.
3. Metode membaca cepat antara lain memperluas gerak mata, mengurangi
pengulangan, menghilangkan kebiasaan membaca bersuara, serta meningkatkan konsentrasi saat membaca. Dengan membaca cepat, gagasan
utama suatu teks dapat disimpulkan.

4. Penulisan pidato disesuaikan dengan keperluan atau kepentingan dari pidato tersebut. Berdasarkan kepentingan atau tujuannya, pidato dapat diklasifikasikan menjadi pidato yang bersifat informatif, argumentatif, persuasif, deskriptif, dan bersifat rekreatif. Materi pidato umumnya terdiri atas tiga bagian, yaitu pembukaan, isi, dan penutup.

Posted Juni 16, 2012 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra

FAKTA DAN PENDAPAT DALAM IKLAN   Leave a comment

Perhatikan iklan berikut!
Dicr: staff Akt Wnt, Meng. Lap. Keuangan. Min. SMA Plus/D3, Bs Comp, Usia max.30th. Dtg lsg&Bw CV Ke: Jl. Kalibata Selatan No. 16, Pasar Minggu (Depan Gedung Tranka)
Pernyataan berikut yang tidak sesuai dengan iklan di atas adalah . . . .
a. Pekerjaan yang ditawarkan dalam iklan di atas adalah staf akuntan.
b. Orang yang berhak mengisi lowongan tersebut adalah wanita yang mengerti laporan keuangan
c. Orang yang berhak mengisi lowongan tersebut adalah wanita dengan pendidikan terakhir SMA Plus atau D3.
d. Orang yang dapat mengisi lowongan tersebut adalah lulusan D3 dan usia minimal 28 tahun

Perhatikan iklan berikut!
DICARI
Asisten Apoteker (AA) Llsn Farmasi, Berpengalaman/ blm untuk Apotek di Keling Jepara.
Hub: Ambar HP: 085249380532
Iklan di atas termasuk iklan . . . .
a. layanan masyarakat
b. undangan
c. pemberitahuan
d. permintaan

Berikut ini merupakan contoh iklan yang isinya mengandung fakta adalah . . . .
a. Minum “Singset Putri”’ tubuh lebih langsing, kulit mulus bak putri keraton!
b. Perangi kebodohan dengan cara membaca!
c. Griya Anggrek Indah, hunian nyaman keluarga bahagia!
d. Basmi nyamuk dengan “Sorafit”, nyamuk hilang tidur tenang!

Perhatikan iklan berikut!
Hadiri dan Saksikan!!
Pameran dan Bursa Buku
di
Diamond Convention Centre
Tanggal 8-13 Novemeber 2008
Tersedia Berbagai Macam Buku
Harga Paling Murah
Koleksi Buku Lengkap
Harga Diskon
Fakta yang terdapat dalam penggalan iklan tersebut adalah . . . .
a. pameran dan bursa buku di Diamond Convention Centre
b. semua merek ada di sini
c. harga paling murah
d. kualitas terjamin

Perhatikan potongan iklan berikut!
Direktur dan Segenap Staf
RSUD Ulin Banjarmasin
Mengucapkan
Selamat dan Sukses
Atas Terpilihnya Bapak Suhastono
Sebagai Bupati Tabalong
Semoga berhasil menjadikan Kabupaten Tabalong sebagai pusat agrobisnis
Opini yang terdapat dalam penggalan iklan tersebut adalah . . . .
a. Direktur dan Segenap Staf RSUD Ulin Banjarmasin mengucapkan Selamat dan Sukses.
b. Terpilihnya Bapak Suhastono sebagai bupati.
c. Direktur RSUD Ulin Banjarmasin mengucapkan Selamat dan Sukses Atas Terpilihnya Bapak      Suhastono sebagai bupati
d. Semoga berhasil menjadikan Kabupaten Tabalong sebagai pusat agrobisnis

Posted Januari 20, 2011 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra

Tagged with

ANALISIS UNSUR INTRINSIK PUISI   Leave a comment

UNSUR INTRINSIK PUISI:   TEMA, CITRAAN, GAYA BAHASA, RIMA

A. Sense (tema, arti)

Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).

B. Imageri (imaji, daya bayang)

Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi.

Imaji disebut juga citraan, atau gambaran angan. Ada beberapa macam citraan, antara lain

  1. Citra penglihatan, yaitu citraan yang timbul oleh penglihatan atau berhubungan dengan indra penglihatan
  2. Citra pendengaran, yaitu citraan yang timbul oleh pendengaran atau berhubungan dengan indra pendengaran
  3. Citra penciuman dan pencecapan, yaitu citraan yang timbul oleh penciuman dan pengecapan
  4. Citra intelektual, yaitu citraan yang timbul oleh asosiasi intelektual/pemikiran.
  5. Citra gerak, yaitu citraan yang menggambarkan sesuatu yanag sebetulnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak.
  6. Citra lingkungan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran lingkungan
  7. Citra kesedihan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran kesedihan

C. Figurative language (gaya bahasa)

Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain

  1. perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.
  2. Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.
  3. Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.
  4. Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.
  5. Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.
  6. Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.
  7. Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.

 

D. Rhythm dan rima (irama dan sajak)

Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,

  1. metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.
  2. Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.

Irama menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tidak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji) yang jelas dan hidup. Irama diwujudkan dalam bentuk tekanan-tekanan pada kata. Tekanan tersebut dibedakan menjadi tiga,

  1. dinamik, yaitu tyekanan keras lembutnya ucapan pada kata tertentu.
  2. Nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara.
  3. Tempo, yaitu tekanan cepat lambatnya pengucapan kata.

Rima adalah persamaam bunyi dalam puisi. Dalam rima dikenal perulangan bunyi yang cerah, ringan, yang mampu menciptakan suasana kegembiraan serta kesenangan. Bunyi semacam ini disebut euphony. Sebaliknya, ada pula bunyi-bunyi yang berat, menekan, yang membawa suasana  kesedihan. Bunyi semacam ini disebut cacophony.

Berdasarkan jenisnya, persajakan dibedakan menjadi

  1. rima sempurna, yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir.
  2. Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
  3. Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
  4. Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
  5. Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
  6. Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
  7. Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
  8. Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.

Berdasarkan letaknya, rima dibedakan

  1. rima awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
  2. Rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
  3. Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
  4. Rima tegak yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertikal
  5. Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal
  6. Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
  7. Rima berpeluk, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
  8. Rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).
  9. Rima rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa)
  10. Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb)
  11. Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d)

Pendapat lain dikemukakan oleh Roman Ingarden dari Polandia. Orang ini mengatakan bahwa sebenarnya karya sastra (termasuk puisi) merupakan struktur yang terdiri dari beberapa lapis norma. Lapis norma tersebut adalah

  1. Lapis bunyi (sound stratum)
  2. Lapis arti (units of meaning)
  3. Lapis obyek yang dikemukakan atau “dunia ciptaan”
  4. Lapis implisit
  5. Lapis metafisika (metaphysical qualities)

Posted Desember 26, 2010 by mtsmudenpasar in Analisis Sastra

Tagged with